Berkelana dari Sawahlunto ke Bukittingi

By 12:05:00


Ada beberapa kenangan yang tersimpan di memori saya jika mengingat masa-masa On The Job Traveling Training atau yang biasa disingkat OJT. Masih beberapa bulan setahun yang lalu sih, jadi Alhamdulillah masih banyak yang diingat.

Saya OJT di daerah Talawi, Sawahlunto yang termasuk daerah agak 'mendalam' di Sumatera Barat. Kalau weekend, terkadang kami jalan-jalan bersama sekedar untuk melepas penat atau mencari hiburan. Di minggu pertama, kedua, ketiga, kami sering banget jalan-jalan. Tapi di minggu-minggu berikutnya, terkadang weekend hanya dihabiskan di mess karena deadline pengumpulan tugas semakin dekat.

Ceritanya, di weekend minggu keempat ada temen saya yang mau jalan-jalan ke Bukittinggi naik motor. Saya ikutan dong, pengen nyobain gimana sensasinya dari Sawahlunto ke Bukittinggi naik motor. Malam harinya, kami berkeliling untuk meminjam motor dan helm ke tetangga mess yang merupakan pegawai di tempat kami OJT. Setelah dapat, langsung deh kami bawa pulang untuk dipakai di keesokan harinya.

Esoknya, kami bersiap-siap dan berangkat pukul 07.00 pagi. Kami mampir ke warung terdekat untuk sarapan, mengisi tenaga sebelum menempuh perjalanan jauh. Tapi, ada satu cobaan datang sebelum berangkat touring. Ketika saya akan mengisi bensin di motor yang saya pinjam, ternyata joknya tidak bisa dibuka. Kami sedikit panik, kemudian membawa motor tersebut ke bengkel terdekat. Setelah menunggu sekitar 30 menit, Alhamdulillah masalah ini dapat teratasi. Akhirnya, kami baru melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi pukul 09.00.

Untuk menuju ke Bukittinggi, kami harus melewati jalanan yang berkelok di dataran tinggi dan jalan yang berbatasan langsung dengan jurangOh ya, jalan di sini nggak seperti jalan biasa ya, nggak seperti daerah datar lainnya. Hampir semua jalanan di sini tidak ada yang datar. Jadi, touring nya lebih menantang. Perjalanan saat itu jadi tidak terasa panas sama sekali, tapi jadi sejuk karena kami melewati banyak sawah dan hutan yang masih asri. Begitu sudah mulai masuk Bukittinggi, mulai panas deh tuh. Jalanannya pun juga mulai ramai dengan para pengguna kendaraan bermotor.

Alasan pertama kenapa kami ke Bukittinggi pakai motor itu sebenernya pengen beli Pizza, ahaha. So, tujuan pertama kami adalah sebuah restoran pizza cepat saji yang berada di dekat Jam Gadang, Bukittinggi. Seperti biasa, sebagai prajab kami pesan paket sensasi Delight, paket yang murah dan bikin kenyang. *sampai sekarang juga masih suka pesen itu sih*.

Craving!
Anak Desa Masuk Kota
Ready to Eat
Setelah dari restoran pizza tersebut, kami beranjak ke pusat perbelanjaan yang letaknya di depan Jam Gadang untuk sholat Dzhuhur dan membelikan beberapa titipan daftar belanja dari temen-temen mess. Kemudian, kami ke Jam Gadang untuk foto bersama dan sekedar nyantai.

Jam Gadang, the Landmark of Bukittinggi
Nggak kerasa, waktu sudah hampir sore. Akhirnya, kami lanjutkan perjalanan untuk ke tempat wisata lain di Bukittingi yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Pilihan jatuh kepada Lobang Jepang, yakni sebuah penjara bawah tanah yang dibuat oleh masyarakat Jepang.

Untuk sampai ke sini, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dari Jam Gadang. Tiket masuknya pun cukup murah, seingat saya untuk orang dewasa dikenakan tarif Rp 8.000. Di awal perjalanan, banyak orang yang menawari kami untuk menjadi guide agar kami tidak tersesat di dalam. Karena banyak sekali ruangan di sini dan juga kondisi di dalam sangat gelap, minim cahaya. Tapi, kami memilih untuk tidak menggunakan jasa guide. Kami masuk ke dalam berlandaskan modal nekat dan ngintil aja ke pengunjung di depan kami yang pakai guide. Hihihi, maklum masih anak ojeteh, jadi nggak mau rugi.  

Lobang Jepang, Bukittinggi
Gelap dan Pengap
Seperti yang saya bilang di atas, begitu masuk ke dalam ruangan ini saya sempat kesulitan untuk melihat sesuatu. Gelap men! Hawa mistis langsung terasa ketika memasuki lorong demi lorong ruangan ini. 

Dahulu, penjara ini dibangun untuk memenjarakan pribumi yang mencoba untuk memberontak atau melanggar hukum saat Jepang masih berkuasa di Indonesia. Tentu saja, yang membangun penjara ini bukan warga Jepang sendiri, tapi penduduk pribumi. Ada yang dipenjara sampai meninggal karena nggak dikasih makan dan kekurangan oksigen karena ruangannya penuh sesak, ada yang dibunuh. Serem lah ceritanya, menyedihkan dan bikin terharu juga. Serasa pengen nangis kalau denger ceritanya. Pokoknya kita harus menghargai perjuangan para warga pribumi yang dulu rela mengorbankan segalanya untuk membawa Indonesia menjadi negara yang merdeka.

Penjara Tempat Pribumi :(
Saat akan kembali ke parkiran, kami bertemu dengan teman-teman lain yang juga OJT di Sumbar, tapi tepatnya mereka di kota Padang. Seperti biasa, kami foto-foto deh, ahihi. Setelah puas foto-foto, kami duduk dan sharing mengenai keadaan masing-masing sekaligus melepas rindu karena lama tidak bertemu.

 
Panorama View Bukittinggi di Depan Lobang Jepang

Finally Meet with My Bestie!
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Kami pun memutuskan untuk pulang lalu mampir makan malam di pinggir jalan. Kalau kami balik terlalu malam, jalanan menuju Sawahlunto pasti akan sangat sepi dan gelap. Sudah pasti risiko bahayanya besar, karena seperti yang saya bilang di atas, sebagian besar jalanannya langsung berbatasan dengan jurang. Ngeri kan :')
Mampir Makan Malam
Sekian pengalaman jalan-jalan saya sama temen-temen waktu ngelayap pakai motor dari Sawahlunto ke Bukittingi. Semoga suatu saat saya bisa main-main lagi ke situ, karena tempat tersebut penuh dengan kenangan dan keindahan alamnya yang begitu mengesankan. MasyaAllah :)

You Might Also Like

0 comments