A Journey From Tanah Datar to Bukittinggi

By 20:30:00


Selamat malam, selamat hari Senin semuanya. Alhamdulillah, di hari ini saya bisa posting pengalaman saya pertama kali liburan di Ranah Minang. Akhirnya, jadi juga tulisan ini meskipun sudah tertunda berhari-hari, berminggu-minggu, sampai akhirnya jadi sebulan karena saking malesnya saya ngetik.

Sebulan kemarin tepatnya hari Sabtu tanggal 5 Maret, saya dan teman-teman OJT di Ombilin pergi main. Kami mau eksplor ke tempat wisata yang terdekat dari tempat tinggal kami. Namanya juga OJT, kepanjangan dari On the Job Traveling, jadi kita harus eksplor-eksplor tempat wisata selama ada di sini *ehhh*. 


Kami berangkat sekitar pukul 07.00, jauh dari rencana awal yang diminta temen saya yang putra, yaitu pukul 06.00. Gimana mau berangkat pagi, orang jam 06.00 aja mereka yang putra baru pada antri mandi. Memang semuanya tidak seindah dan semulus rencana. Alhasil, kami yang putri malah jadi foto-foto ga jelas di depan mess sembari menunggu temen-temen putra.



Kami yang putri berangkat naik mobil rental, sekalian dengan jasa sopir seharga Rp 250.000. Totalnya ada lagi tiga mobil yang berangkat. 

Tujuan jalan-jalan kami adalah Istana Basa Pagaruyung di Batusangkar, Jam Gadang di Bukittinggi, dan terakhir Danau Singkarak di Solok. Alhamdulillah, perjalanan kami lancar jaya karena sopir kami hafal jalan di daerah sini (yaiyalah, kan sopirnya penduduk asli sini). Pada akhirnya, kami membayar Rp 300.000 untuk sewa mobil dan sopir karena ternyata pulangnya agak malem. 

Berikut ini adalah sedikit cerita dan foto-foto saya di liburan ini:

1. Istana Basa Pagaruyung





Istano Basa Pagaruyung terletak di kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar. Bangunan rumah Gadang dengan gaya arsitektur khas Minangkabau ini dibangun di sekitar abad 17 dan difungsikan sebagai kediaman keluarga kerajaan Pagaruyung. Harga tiket masuknya sangat terjangkau, cuma Rp 7.000 aja.






Yuk masuk ke dalam Istana Pagaruyung...

Oh ya, sebelum masuk ke dalam istana kita harus melepas alas kaki. Kemudian, alas kaki kita dititipkan ke penjaga di dalam plastik. Tarif penitipan alas kaki seikhlasnya dan diberikan saat kita keluar nanti.







Di dalam istana ini terdapat layar touchscreen yang menampilkan video berisi informasi sejarah dari Istana Pagaruyung ini. Ternyata, bangunan yang sekarang ini adalah replika kedua dari yang asli. Bangunan aslinya terletak di atas Bukit Patah dan sudah terbakar di tahun 1804 akibat perang, kemudian dibangun replika di tempat tahun 1966 tetapi terbakar lagi. Lalu dibangun kembali replika dari Istana ini tapi pada tahun 2007 terbakar. Akhirnya, di tahun 2008-2014 dibangunlah kembali Istana Basa Pagaruyung yang berdiri kokoh hingga saat ini. Biaya pembangunan replika istana ini adalah sekitar 20 M.











Setelah dari Istana Pagaruyung, kami makan dulu nih. Kebanyakan dari kami belum sempat sarapan sebelum berangkat, saya juga cuma sempet minum sereal aja. Akhirnya, atas saran si pak sopir, kami mampir ke rumah makan yang lokasinya di tengah sawah. Suasananya asyik, sayangnya saya nggak sempat ngefoto. Di sini saya pesen Nasi Goreng Crispy. Saya pikir wujudnya adalah berupa nasi goreng yang ditaburi ayam krispi atau semacamnya. Eh setelah hidangan datang, rupanya saya salah pesan makanan. Kok meriah banget, kebanyakan :’)





2. Jam Gadang dan Pasar Bukittinggi



Setelah dari Istana Pagaruyung di kabupaten Tanah Datar, kami melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Bukittinggi. Tujuan wisatanya, tentu saja landmark dari Bukittinggi itu sendiri, Jam Gadang. 

Di angan-angan saya yang tergambar tentang Jam Gadang adalah lokasinya ada di dalam suatu area tertutup. Ternyata saya salah, jamnya terletak di tengah-tengah taman. Lokasinya juga dekat dengan Pasar Wisata Bukittinggi, Pizza Hut, KFC, Ramayana, dan kios-kios lainnya. Sangat dekat dengan keramaian apalagi weekend seperti hari Sabtu, dan saya suka.





Oh ya, untuk bisa menikmati indahnya jam Gadang ini, kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli tiket masuk. Mungkin Cuma butuh uang untuk bayar parkir.

Tapi sayang sekali, saya tidak sempat memotret keadaan pasarnya. Mungkin karena saya sibuk memilih-milih kaos oblong dan mukenah untuk oleh-oleh kali ya? 



Oh ya, kalau mau mencari souvenir untuk oleh-oleh juga bisa di Pasar Bukittinggi ini. Ada berbagai macam jenis souvenir yang dijual, seperti gantungan kunci, kaos oblong, mukenah Padang, songket Padang, magnet kulkas, dll. Mulai dari yang murah sampai yang mahal ada semua di sini. Harga kaos oblong lengan pendek Rp 25.000 dan yang lengan panjang Rp 35.000. Ada juga magnet kulkas harganya Rp 15.000 untuk dua buah, mukenah Padang paling murah Rp 200.000, gantungan kunci Rp 10.000 dapet 3, dll.

3. Danau Singkarak, Solok



Setelah dari Bukittinggi, kami melanjutkan pejalanan ke Danau Singkarak yang terletak di kota Solok. Perjalanan dari Bukittinggi ke Solok memakan waktu sekitar dua jam. Tapi di tengah perjalanan kami berhenti untuk beli oleh-oleh khas Sumbar lainnya, yaitu Sanjay.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya sampai juga di Danau Singkarak sekitar pukul 17.00. Dan inilah penampakan dari Danau Singkarak…








Indah kan?

Demikian perjalanan saya keliling Sumbar di minggu pertama. Sampai jumpa di postingan selanjutnya…



You Might Also Like

0 comments