Balada Merantau

By 12:45:00


Seorang diri, jauh. Tak pernah terbayangkan lekat-lekat dalam pikiran sebelumnya jika harus menjalani ini semua.

Merantau. Itu artinya, saya harus bertanggung jawab atas diri saya sendiri di tempat lain. Jauh dari keluarga, jauh dari orangtua. Saat-saat menjelang tidur malam adalah saat datangnya waktu merenung yang tak disengaja. Di kamar yang gelap sebelum terlelap, biasanya hati ini berkata, "Yaa Allah, aku ini sendiri ya hidup di sini, jauh dari orangtua,". Mungkin terlalu lambat untuk bersedih, mengingat sudah hampir setahun saya tinggal jauh dari keluarga. Tapi entah kenapa pikiran itu terkadang tiba-tiba muncul kembali. Hingga tak terasa, hangatnya airmata mengalir membasahi pipi.

Meskipun semenjak duduk di bangku sekolah menengah atas saya sudah terbiasa hidup mandiri dan jauh dari orangtua, tetap saja rasanya sedih jika mengingat keadaan. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah konsekuensi yang harus saya jalani. Beruntungnya, di sini saya dipertemukan dengan kawan-kawan yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Mereka juga sama seperti saya, anak rantau yang berasal dari pulau yang sama. Bukannya tidak mau berkawan dengan putra daerah, tapi memang kebanyakan rekan kerja saya yang seumuran adalah perantau.

Bagaimanapun juga, ini adalah nasib dan jalan pilihan saya yang sangat amat didukung dan direstui oleh kedua orangtua. Tanpa ada mereka berdua di belakang saya, mungkin saya tidak akan pernah seikhlas ini dalam menjalani semuanya. Dan tentu saja, ini juga karena Allah yang selalu memberikan kekuatan dan jalan terbaik atas segala keputusan. Jadi, terima, jalani, dan syukuri semua dengan senang hati sambil berdoa agar suatu saat diberi kesempatan mutasi kembali ke kampung halaman :')


You Might Also Like

0 comments