Sherly's Diary

Today is a new story for a new history

Denpasar, 1st of Nopember 2010
Happy Sunday nite...

Malem ini kos sepi, adek-adek lagi takziah ke Gresik. Ayah dari temennya ada yang meninggal. 
Malem-malem sendirian di kos itu rasanyaaa... Krik...krik...krik...
Sepi banget, apalagi kos di perumdos itu deket sama "kebon". Hahaha.

Kalo udah sepi gini, jadi bisa merenung, galau, kangen sama si Unyil, my cute niece. Ya walaupun udah umur 3,5 tahun dan udah mau masuk playground tapi rambutnya masih aja kayak anak cowok gitu. Tapi tetep aja bikin aunty kangeeen...

Waktu baru lahir, dia kecil bangeeet. Ya namanya juga nggak pas 9 bulan 10 hari, tapi waktu itu udah kehitung kandungan 9 bulan. Kata dokter sih ada faktor lain yang bikin dia nggak gede, meskipun mbakku makannya banyak. Plasentanya nggak mau nyerap sari makanan dari mbakku. Jadilah dia sekecil ini, taraaaa...

Kelahirannya bikin aku kaget. Secara waktu itu aku lagi di ma'had, nggak bisa denger ceritanya langsung dari orangtua saat itu juga. Apalagi keberadaan dia nun jauh di seberang, di Bali. Pas Ayah sama Ibu jenguk aku di ma'had, barulah itu diceritain. Saat itulah aku resmi menjadi seorang tante. Rasanya aku nggak percaya, bukan nggak percaya karena bahagia. Aku nggak percaya karena aku masih belum bisa nerima. Aku nggak pengen mbakku punya anak, aku nggak mau. Pasti nanti perhatiannya akan lebih tercurah ke anaknya daripada ke aku. Mulai saat itu setiap habis sholat aku nangis dan bertanya ke Allah, "Yaa Allah, kok aku udah jadi tante sih? Aku nggak mau ada yang nyaingin aku, yang ngambil kasih sayangnya mbakku," Hwaahhhhh T.T *dasar anak-anak* 

Tapi lama-kelamaan, akhirnya aku bisa nerima semua kenyataan ini. Semua kenyataan pahit ini. Hahaha, *apaan sih*.

*back to the topic*

Singkat cerita, akhirnya aku bisa nerima dan aku bisa mengikhlaskan mbakku untuk jadi ibu dan berbagi kasih sayang dengan anaknya. Wkwk.
Waktu si Unyil ini agak gedean, barulah dia diajak ke Jawa, ke rumah orangtuaku. Awalnya dia diajak waktu masih umur 2 bulan. Tapi aku masih nggak tau wujudnya dia, lagi-lagi karena aku di ma'had belum bisa pulang. Trus waktu Ramadhan gitu mbakku ke Jawa lagi, pas si Unyil umur 5 bulan. Aku dijenguk ke ma'had, dari saat itulah aku sudah bisa sangat nerima bahwa aku sudah jadi aunty dari bayi mungil ini...^^


Here, Raysya when 5 months old

Hoaaamm.. Baru ngetik sedikit aja udah ngantuk. Huhuhuh, Payaahh!
Udahan dulu kali ya, kapan-kapan disambung lagi dah.

See you... ^^

"Sesungguhnya yang mendatangkan rasa cinta ini, yang mendatangkan rasa kagum ini, yang memekarkan hati ini adalah dari-Nya. Sungguh aku hanya bisa menerimanya. Aku hanya bisa pasrah tertegun tak bisa mengelak atas perasaan ini padamu.

Tertegun dalam keindahan akhlakmu. Tertegun dalam manisnya lisanmu. Tertegun dalam tenangnya pandanganmu. Dan tertegun pula dalam kesejukan nasehatmu. Semua begitu sempurna, sungguh sempurna. Sesempurna sesuai firman-Nya.

Aku yang mengagumimu dalam diam. Utuh tak tersentuh. Seperti mentari yang menyapa bunga-bunga bermekaran. Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran itu.

Karena aku mengagumi maka izinkan aku tak mengusik khusyunya ibadahmu. Izinkan aku tak mengusik ketenangan hatimu. Tak mengapa aku tak bertegur sapa denganmu. Cukuplah bagiku menyapamu dalam doa-doaku.

Cukuplah bagiku tersenyum lezat melihatmu bahagia. Cukuplah bagiku menyebut namamu dalam hamparan sajadahku.

Aku yang tersentuh akhlak muliamu, aku yang terkagum lekat dalam sikapmu, mencintaimu dalam diam mungkin lebih baik bagi diriku dan dirimu. Lebih mulia bagi perasaanku dan perasanmu. Lebih menjaga kehormatanmu. Lebih menjaga kemuliaanmu. Maka izinkan aku, hai engkau yang begitu mulia, izinkan aku mencintaimu dalamn keikhlasan karena aku tak pernah tau apakah engkau yang tercatat dalam lauful mahfudz untukku?

Karena aku tak pernah tau adakah balasan darimu untukku. Biarlah kuasa Allah yang menggerakan hatimu untukku.

Bukan karena mencintaimu dengan diam aku akan menderita. Bukan karena mengagumimu dengan diam aku akan merana.
Namun, ketika ku artikan cinta itu pada sisi kehadiran dan kebersamaan denganmu. Maka itu lah penderitaan yang sesungguhnya.

Aku yang mencintaimu dari kejauhan. Walaupun sungguh aku merasa sangat dekat denganmu.

Biarlah aku dekap rapat perasaanku ini. Biarlah aku tutup rapat hingga Allah mengizinkan pertemuan kita. Namun jika memang engkau bukan tercatat untukku. Jika memang engkau hanya hiasan duniaku yang sementara, sungguh aku yakin Allah akan menghapus cinta dalam diamku padamu. Allah akan menghilangkan perasaanku untukmu. Dia akan memberikan rasa yang lebih indah pada orang yang paling tepat. Begitulah kuasa-Nya. Begitulah Dzat yang membolak-balika n hati hamba-Nya.

“Ketika aku tak lagi terkagum denganmu, maka pahamilah jejakku.. Karena mungkin, aku pernah menulis tentangmu dan meyapa namamu dalam tiap untaian doaku”
Finally, I Found You
Sumber: https://agussalimchaniago.files.wordpress.com

It's been a long and winding journey, but i'm finally here tonight
Picking up the pieces, and walking back into the light
Into the sunset of your glory, where my heart and future lies
There's nothing like that feeling, when i look into your eyes...

 
[Bridge]
My dreams came true, when i found you
I found you, my miracle... 

 
[Chorus]
If you could see, what i see, that you're the answer to my prayers
And if you could feel, the tenderness i feel
You would know, it would be clear, that angels brought me here...

 
[Verse 2]
Standing here before you, feels like i've been born again
Every breath is your love, every heartbeat speaks your name... 

 
[Bridge 2]
My dreams came true, right here in front of you
My miracle... 

 
[Chorus]
If you could see, what i see, you're the answer to my prayers
And if you could feel, the tenderness i feel
You would know, it would be clear, that angels brought me here...

 
[Bridge 3]
Brought me here to be with you,
I'll be forever grateful (oh forever Faithful)
My dreams came true
When I found you
My miracle... 

 
[Chorus]
If you could see, what i see, you're the answer to my prayers
And if you could feel, the tenderness i feel
You would know, it would be clear, that angels brought me here...
Yes they brought me here...
If you could feel, the tenderness i feel...
You would know, it would be clear, that angels brought me here...

  • Guy Sebastian - Angels Brought Me Here

......
Jika suatu saat nanti aku telah dipertemukan Allah dengan seseorang yang akan menjadi imamku kelak, aku ingin menyanyikan lagu ini, “Angel Brought Me Here”. Kalau didengar-dengar, sepertinya lagu ini mempunyai makna yang sangat dalam. Lagu ini menceritakan kebahagiaan seorang pria saat dia sedang menjalani upara pernikahan. Dia telah dipertemukan oleh seorang wanita yang selama ini dia impikan, wanita yang selalu dia sebut dalam doanya setelah sekian lama menanti.

Dia berjanji akan selalu membahagiakan dan akan selalu setia pada wanitanya. Kebahagiaan yang tak mampu dia ungkapkan lewat kata-kata. Andai sang wanita dapat melihat apa yang dia lihat, dapat merasakan apa yang dia rasakan, itulah keadaan yang menggambarkan tentang perasaannya saat itu.

Aaah, so sweet sekali lah lagu ini. Memang benar sekali, jika kita terlalu lama kecewa karena bertemu dengan cinta yang salah dan akhirnya dipertemukan dengan seorang yang benar-benar menyayangi kita apa adanya dalam suatu majelis pernikahan, rasanya seperti mimpi. Walaupun aku belum pernah menjalaninya, tapi aku bisa sedikit meraba bagaimana rasanya dipertemukan oleh Allah dengan jodoh kita, yang selama ini hanya menjadi mimpi dan harapan dari doa-doa yang selalu terucap.

Aku yakin, suatu saat aku pasti dapat merasakan itu. Entah tiga tahun, empat tahun atau bahkan dua tahun kemudian, hal itu pasti aku alami juga, Insya Allah. Aku juga sudah lelah dengan semua cinta tidak tepat yang selalu menghampiriku. Hal itu hanya meguras energiku untuk sakit hati dan memikirkannya. 

Aku ingin itu terjadi, aku ingin segera dipertemukan dengan dia, yaa Allah. Dia yang akan menjadi imamku, ayah dari anak-anakku, temanku hidupku dalam menghadapi pahit manisnya kehidupan, sahabatku, segala tentang kehidupanku ada padanya. Dialah yang selalu kunanti, kuminta dalam doa. 

Dialah, calon Suamiku...  



Di usia yang kata mereka masih belia ini, aku ingin menuliskan rencana hidupku. Satu hal yang saat ini masih terus kupikirkan, terngiang dalam benak adalah "menikah". Ya, mungkin bagi sebagian orang masih menganggap aneh, berdecak kemudian bergumam, “Masih juga umur 18 tahun, kok udah mikir nikah. Sekolahmu tuh urusin dulu, benerin”. Sebagian lagi mungkin ada yang tertawa.

Namun bagiku, menikah ini adalah bagian yang terpenting, yang bisa menggenapkan sebagian agamaku. Saat ini, aku tak mau bermain dan dekat-dekat dengan yang namanya merealisasikan “cinta”. Jika suatu saat Allah menganugerahkan rasa itu ada padaku, cukuplah kupendam saja dalam diri ini satu kata yang bernama cinta itu hingga saatnya tiba. Atau mungkin jika suatu saat laki-laki yang aku cintai sudah menemukan “tulang rusuknya” lebih dahulu, bagaimana? Hmmm... patah hati itu pasti ada, manusiawi kok. Tapi ya mau bagaimana lagi, tulang rusuknya itu kan sudah dituliskan Allah di Lauhil Mahfudz, dan ternyata yang dituliskan Allah itu bukan aku. Kalau sudah begini, bagaimana? Mau kecewa sama si laki-laki? Dia juga tidak tahu menahu tentang siapa jodohnya kelak. Ternyata oleh Allah dia dijodohkan dengan orang lain, maka kecewaku itu harap dihapus pelan-pelan saja. Mungkin yang dituliskan Allah untukku itu juga sedang menungguku. Toh ya aku dulunya pernah patah hati, juga pernah kecewa dan akhirnya kuat lagi. Yang paling parah paling Cuma nangis semalem, nyari hiburan dan kesibukkan, akhirnya ceria lagi, ketawa-ketawa lagi. Rasa sedih dan senang adalah fitrah kita sebagai manusia, karunia Allah. Jadi kalo lagi seneng ya nikmati aja, kalo lagi sedih jalani aja. Tidak selamanya sedih itu akan hinggap di diri ini, begitu juga dengan senang. Lagipula rasa cinta untuk dia lama-lama juga terkubur hidup-hidup dan diuraikan oleh bakteri yang bernama waktu.

Aku ingin nikah muda. Awalnya aku ingin menikah di usia 23 tahun. Tapi karena tidak ingin berlama-lama terus sendiri, “berpuasa” dan iri dengan kemesraan tulisan-tulisan di fanpage islami tentang percakapan sepasang suami istri yang hendak melaksanakan sholat tahajud, jadi aku memutuskan ingin menikah di usia sekitar 21 atau 22 tahun. Awalnya fine-fine saja, tapi setelah dipikir-pikir lagi, “Apa nggak terlalu muda ya?” Padahal aku ingin membahagiakan orangtuaku dulu, ingin memperhatikan dan mencurahkan semua kasih sayangku kepada beliau berdua. Memang bisa sih membahagiakan kedua orangtua saat kita sudah menikah nanti. Tapi menurutku, itu tidak bisa seleluasa dan sefleksibel saat aku masih single dan belum ada ikatan dengan siapapun. Aku masih bisa manja-manja ke ibu, ke ayah. Nah kalo udah nikah, kan ya malu mau manja-manja sama ibu atau ayah. Kan sudah ada suaminya. Hehe.

Aku masih ingin memberikan sesuatu yang berharga kepada beliau berdua dari hasil keringatku sendiri. Yah walaupun orangtua tidak pernah mengharapkan balasan harta dari anaknya, tapi aku ingin sekali menaikhajikan kedua orangtuaku, mengajak beliau berdua ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi, banyak deh pokoknya. Nah kalo sudah menikah, walaupun semua itu dari hasil keringatku, uangku sendiri, kan ya setidaknya harus bilang ke suami dulu. Karena saat menikah aku kan sudah menjadi tanggung jawab suamiku, bukan orangtuaku lagi.

Satu hal yang lumayan besar lagi untuk jadi pertimbangan, aku ingi melanjutkan studiku dari D3 ke S1 di ITS. Loh, emangnya kalo udah nikah apa nggak bisa ya? Ya bisa sih, tapi berdasarkan pengalaman, kuliah di ITS itu sangat amat butuh keseriusan dan butuh perhatian khusus. Apalagi nanti aku sambil kerja di PLN, tidak tau mau ditempatkan dimana. Tapi kalo aku ditempatkan di sekitar wilayah Surabaya, aku mau lanjutin kuliah S1 di ITS. Aku mau ambil yang malam hari. Pagi sampai sorenya buat kerja. Nah, kalo udah kayak gitu kan nggak ada waktu lagi buat sang suami kelak. Apalagi kalo nanti ada anak, kan kasihan. Ada sih ada, tapi kan intensitasnya sangat sedikit. Sekitar 9 dari 24 jam lah, tapi yang 6 jam buat tidur. Sedikit kan?

Berdasarkan semua pertimbangan-pertimbangan di atas, aku jadi meninggikan patokan usiaku untuk menuju ke pelaminan menjadi 23 tahun. Atau minimal 22 tahun lah. Tapi ini hanyalah naluriku sebagai manusia yang bisa berencana. Apapun yang terjadi nanti, aku pasrahkan sama kehendak yang telah Allah tuliskan untukku. Wallahu ‘alam bisshowab.   

Married, a Simple Word contain Big Things for a Big Influence in whole life.




Bissmillahirrahmanirrahim...
Mimpiku, tetaplah berpijak di tempat tertinggi...
Kugantungkan pada langit di atas langit...
Menunggu hingga kudapat menjemputnya dengan rendah hati...
Hingga kini, setia berusaha menjemput dan merajut yang lainnya tiada henti...

Semua orang pasti memiliki mimpi, begitu juga dengan aku. Aku hanya seorang mahasiswi biasa yang bermimpi untuk dapat mengubah dunia menjadi yang lebih baik. Ketinggian? Ya, mungkin itu ketinggian. Tapi itulah mimpiku, mimpi yang indah. Dan salah satu cara untuk mewujudkan mimpi itu adalah dengan bangun dan berusaha dengan maksimal.

Bukan mimpi lagi lebih tepatnya, tapi cita-cita. Sedari kecil, aku ingin menjadi orang yang terkenal. Hingga aku ingin ikut-ikutan menjadi seperti kakakku yang dulu pernah menjadi juara 1 “Duta Pariwisata” (Tourism Ambassador)di kabupatenku, Mojokerto.

“Kamu pasti bisa menjadi orang terkenal, tetapi dengan cara yang lebih terhormat,” Kata Ibu saat aku menyatakan keinginanku itu.  Hingga saat ini, aku tetap mengingat-ingat perkataan Ibuku itu dan aku masih tetap menunggu sampai kapan perkataan Ibuku itu akan menjadi suatu kenyataan.

Sesuai dengan potongan ayat di Al-Qur’an:

....إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ...

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS.Ar-Ra’d:11)
Dari petikkan ayat di atas dapat dimaknai bahwa jika seseorang ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya, maka dia harus berusaha untuk mengubah faktor penyebab terhalangnya perubahan itu. Intinya, nasib kita di masa depan itu ditentukan dari bagaimana usaha kita di masa sekarang. Tetapi jika Allah menghendaki terjadinya suatu bala kepada seseorang, maka tidak akan ada yang bisa menghindarkan.

Sesuai dengan teori Hukum Gerak Newton yang ke-3:
“Gaya aksi dan reaksi dari dua benda memiliki besar yang sama, dengan arah terbalik, dan segaris. Artinya jika ada benda A yang memberi gaya sebesar F pada benda B, maka benda B akan memberi gaya sebesar –F kepada benda A. F dan –F memiliki besar yang sama namun arahnya berbeda. Hukum ini juga terkenal sebagai hukum aksi-reaksi, dengan F disebut sebagai aksi dan –F adalah reaksinya.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_gerak_Newton)


Jika dikaitkan dengan usaha di kehidupan nyata, usaha seseorang yang besar akan membuahkan hasil yang besar pula. Sehingga, harus berusaha dan bekerja dengan maksimal. Jangan lupa juga untuk berdoa, karena bagaimanapun besarnya usaha yang telah kita lakukan, hasilnya tergantung dari bagaimana kehendak Allah.
Dan sampai saat ini, aku masih tetap berusaha untuk dapat menjemput mimpi-mimpi itu. Mumpung masih muda, kan kucoba tuk terus berkarya dan memberikan kontribusi untuk negeri dan dunia. Insya Allah niat baik ini akan dimudahkan oleh Allah. Karena sebuah hadits menyatakan:
عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس »
 
Artinya: Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Aku ingin di sisa usiaku ini, aku bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semua ini ingin kulakukan dengan ikhlas, hanya karena Allah semata. Semoga Allah meridhoinya. Aamiin...
Wallahu 'alam bisshowab...



Bissmillahirrahmanirrahim...
 
Tak tau mengapa, air mata ini tiba-tiba ingin menunjukkan keberadaannya saat terbesit namanya di benakku. Mungkin, dialah malaikat tak bersayap yang dikirimkan oleh Allah untuk menjagaku. Dengan suatu peristiwa yang menjadikan kita dapat bertemu. Tiada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, semua itu telah diatur oleh-Nya.

Kala luka itu masih menganga perih, perlahan dia sembuhkan. Kala hati ini membeku dan tak dapat mengartikan lagi rasa, perlahan dia luluhkan. Sampai saat ini ku tak habis pikir, bagaimana ini dapat terjadi kepadaku dalam waktu yang begitu cepat? Dan mengapa Allah mengirimkan dia, seseorang yang luar biasa untukku sedangkan aku, sama sekali tidak. Tapi kembali lagi, tiada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Setiap detail kejadian dari skenario-Nya pasti ada benang merahnya. Sekecil apapun detail itu berubah padaku, pasti akhirnya tak akan seperti ini.

Dia ajarkan aku secara tersirat bagaimana cara menjemput cinta agar menjadi halal. Walau mungkin saat ini, di usiaku yang ke-18 ini belumlah saatnya untuk merealisasikan. Tapi aku bahagia karena dia mengajarkanku bagaimana bersikap secara dewasa dan bijaksana.
Yaa Allah, terima kasih karena Engkau telah mengirimkan dia untukku, seseorang yang telah mengajarkanku bahwa cinta itu tak harus selalu memantau dengan saling berpesan singkat, telepon, ataupun lainnya. Tapi cinta itu saling menjaga dan mendoakan. Semoga dia dapat menjadi halal untukku seiring dengan berjalannya waktu dan takdir-Mu.

Kini adalah saatnya untuk menyelam di lautan ilmu, berbakti kepada walidain, dan mempersiapkan diri untuk dapat menjadi istri yang shalihah. Karena cepat atau lambat, predikat istri itu pasti akan terjadi kepadaku.

Yaa Allah, kutitipkan semua rasa cintaku untuknya padamu. Jagalah dimanapun dia berada. 

Karena Engkau-lah, aku mencintainya. 

Uhibbuka Fillah (´⌣`ʃƪ)


Dia...

Dia yang mencintaimu tak akan merusak harga dirimu, tapi akan menjagamu...
Dia yang mencintaimu tak akan membatasi pergaulanmu, karena dia tau bahwa kamu belum menjadi haknya dan dia belum berhak mengatur kehidupanmu...
Dia yang mencintaimu tak akan menyakiti hatimu, karena cinta itu suci, tidak untuk saling menyakiti...

Dia yang mencintaimu, tak akan menuntutmu untuk menjadi yang sempurna, karena pada dasarnya Allah menciptakan manusia yang berpasang-pasangan itu untuk melengkapi kekurangan satu sama lain...

Dia tak akan bersikap kasar kepadamu, karena dia tau perempuan itu makhluk yang lemah lembut. Perempuan itu lemah, karena ia tercipta dari tulang rusuk laki-laki yang mudah patah...

Dia yang mencintaimu, tak akan mengikatmu dengan hubungan yang tidak halal, karena sejatinya manisnya cinta antara dua insan itu akan dapat dirasa setelah akad nikah...(^⌣^)

[SND]




 
I Miss You
Sumber: http://gotomarketguy.com

Bissmillahirrahmanirrahim...
   
Hari ini udah hari Sabtu yaa? Huhu, aku pengen pulang ke rumah. Udah 4 minggu aku nggak pulang ke rumah. Ini sesuatu banget, rekor di semester 3 ini. Padahal sebelumnya waktu semester 3, aku nggak pernah ngelewatin libur di tiap minggu tanpa pulang, kecuali kalo bener-bener ada acara yang sekiranya penting banget. Kumpul kelas kan lumayan penting, buat mengakrabkan lah. Gitu aja aku nggak ikut kok. Hehe ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ
Nggak tau kenapa kok hari ini, tepatnya hari Jumat kemarin sih, aku mulai ngerasa kangen sama orang-orang di rumah. Kangen Ibu, kangen Ayah, kangen Mama (Tante), kangen Mbak, kangen Mas (eh tapi kalo orang ini nggak sih)
     
1. Mama...
 
Semuanya bermula dari waktu aku kebangun tidur siang. Ba'dha sholat Jumat sekitar jam 14.00 tadi aku tidur siang, soalnya capek banget abis ke Pasar Jumat (pasar kaget di kampus). Tiba-tiba jam 15.00 tadi hapeku bunyi, ada yang telfon. Hapeku teriak-teriak "mama...mama..." Berarti tandanya itu telfon dari Mamaku. Mama itu panggilan buat Tanteku, adik Ayahku yang pertama. Aku dan kedua saudaraku panggil gitu karena Mama nggak diberi titipan putra oleh Allah.

Langsung aja aku angkat telfonku.   

"Assalamu'alaikum, yak apa kabare nduk?" (Assalamu'alaikum, gimana kabarnya nak?) tanya Mama, membuka pembicaraan.
"Wa'alaikumsalam... Nggeh Ma, sae-sae mawon. Wonten nopo Ma?" (Wa'alaikumsalam... Iya Ma, baik-baik aja. Ada apa Ma?) Jawabku.
"Kok gak mantuk nduk? Mama kangen, tak delok nang omah kok jarene gak mantuk, sibuk," (Kok nggak pulang nak? Mama kangen, kulihat ke rumah kok katanya nggak pulang, sibuk) Tanya Mama.

Hwahh, langsung dua sumur di bawah dahi ini menetes dengan sendirinya. Aku kangeen Mama jugaak (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)


"Enggeh Ma, kulo benjeng wonten acara. Sakjane niki wau mantuk, tapi mboten sios," (Iya Ma, aku besok ada acara. Harusnya ini tadi pulang, tapi nggak jadi) jawabku.

"Enggeh, Mama saiki sakit, meriang katene pilek. Ya wes nduk, ojo lali sinau yo, dijogo kesehatane. Assalamu'alaikum," (Iya, Mama sekarang sakit, meriang mau pilek. Yaudah nak, jangan lupa belajar ya, jaga kesehatannya. Assalamu'alaikum) Kata Mama.

"Nggeh Ma, suwun nggeh. Cepet ndang sehat Ma, dungo'aken kulo. Wa'alaikumsalam," (Iya Ma, makasih ya. Cepet sembuh ya Ma, doakan aku. Wa'alaikumsalam) Jawabku mengakhiri telepon.

Hwaaaah, untuk yang kedua kalinya kata-kata Mama tadi rasanya nge-touched banget. Biasanya kalo Mama sakit itu, mesti nyari aku, minta dipijitin. Mungkin Mama tadi telepon aku gara-gara kangen, biasanya ada yang mijetin tapi sekarang yang biasanya mijetin nggak pulang (╥__╥) 

Miss U, Mama T__T

2. Mbakku...

Abis Mama telepon, aku lanjut tidur lagi. Hehe...

Eh nggak sampek 10 menit kok hapeku udah bunyi lagi. Hapeku sekarang teriak-teriak, "Mbak Arie...Mbak Arie..." Walah, itu tandanya yang telepon Mbak Arie, kakak pertamaku yang sekarang ada di Bali karena ikut suaminya.

Tadi Mbakku telepon tanya kabarku, kabar Ibu, kabar Ayah, kabar Mas Koko. Lha wong aku nggak pulang kok ditanyain begitu -___- 

Terus mbak ceritain tentang si Raya, ponakanku yang sekarang udah mulai nakal. 

"Masa' pas Mbak sinau, Raya melu-melu nggowo bulpen ngurek-ngurek kertase terus ngomong, "cama-cama nak..."," (Masa' waktu Mbak belajar Raya ikut-ikut bawa bolpoin coret-coret kertasnya terus bilang, "sama-sama nak...") Cerita Mbak Arie. 

"Haha," Aku langsung ketawa denger ceritanya. Masa' iya sih, ibunya sendiri dipanggil "nak..naka.." sama anaknya. Behh, sungguh terlalu, keponakannya siapa itu? (۳˚Д˚)۳

By the way, aku sekarag jai kangen juga sama Mbakku ini. Apalagi waktu lebaran kemarin nggak pulang ke rumah. Aduuh, udah 2 bulan nggak ketemu. Kangen juga sama si kecil Raya yang sekarang udah umur 3,5 tahun.


Ini 2 Tahun yang Lalu, Waktu Aku Dijenguk di Ma'had
Mbak Arie, Raya, I Miss You All (T^T)
3. Ibu...

Dari sekian banyak* orang yang telepon aku, hanya satu orang ini yang tak mengharapkan kedatanganku ke rumah. Hanya beliau yang tak menginginkan aku pulang. Rasanya, bagaikan anak yang tak dianggap. Hiks T.T

Maaf, maaf, itu semua hanya akting belaka. Hehe. 

Waktu selesai telepon sama Mbakku, sekarang ganti aku yang telepon Ibu. Saking enaknya ngobrol, sampek kebablasan pulsaku tinggal Rp 200,00. Ohh men... (๑_๑)

Tapi emang iya sih, dari semua orang yang bilang "kangen" trus nanyain "kapan pulang?" cuma Ibu doang yang bilang ke aku, "Mantuk pas Besar ae yo, ben gak mbolak-mbalik," (Pulang waktu Besar** saja ya, biar nggak bolak-balik).

Gubraaakkk, serasa dunia ini runtuh. Ternyata masih ada juga yang nggak kangen sama aku. Akhirnya, rencana pulang untuk Minggu ini yang sudah kuanggarkan hangus semua. Tapi emang bener sih kata Ibu, biar nggak bolak-balik Surabaya-Mojokerto-Surabaya. Tapi kan itu masih deket, sekitar 60 km. Mungkin Ibu nggak senengnya kalo aku pulang itu selalu bandel pas disuruh balik. Kalo mau dianterin ke terminal selalu aku olor-olor jamnya sampek Ibu kesel sendiri. Haha.

Tapi tetep aja, aku juga kangen Ibu. Miss You, Ibu (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)


Ibukku yang Cantik Sedunia (˘⌣˘)ε˘`)
Okelah, semoga saja orang-orang yang aku sebutkan diatas selalu diberi Allah kesehatan dan selalu dalam LindunganNya. Tanpa do'a, kasih sayang, dukungan dan semangat-semangat dari beliau, mungkin aku sekarang bukan apa-apa.

           Love you, miss you my family... (´⌣`ʃƪ)


NB:
*Banyak = Lebih dari Satu
**Besar = Sebutan Orang Jawa untuk Hari Raya Kurban.

Bacaan Harian karena Tuntutan Tugas
Bissmillahirrahmanirrahim...

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.(QS. An-Nuur [24]: 32)

      Tak tau mengapa, tiba-tiba aja pengen nulis tentang sesuatu yang agak sensitif, yaitu "Pernikahan".  Mungkin ini karena tuntutan tugas dan aku terlalu memaknainya. Haha. 


       Aku dapat tugas mata kuliah agama islam, harusnya bukan aku yang dapet bab ini. Tapi kok ya dosennya milih aku buat bahas "Munakahat dalam Islam". Hmmm... Pasti ada hikmah disetiap kejadian. Positif thinking saja. 
       Siapa sih yang nggak mau nikah? Sudah senang karena mendapatkan teman hidup yang (Insyallah) pasti, semua yang dikerjakan diridhoi Allah juga. MasyaAllah...
 
Memeluk Hati
(Sumber: www.twitter.com)

Bissmilahirrahmanirrahim... 

Today, I dunno what shall I write here. Haha.

Kali ini, aku pengen nulis tentang "Hatiku" dan "Isi di Dalamnya". Isi Hati bukan dalam makna sebenarnya loh ya, tapi "Isi Hati" yang dimaksudkan disini adalah "Rasa". Bukan juga Rasa Manis, Asem, Asin yang kayak iklan permen di TV itu. Yah, you know what I mean lah. Isi hati disini bukan hanya tentang cinta, tapi mencakup semuanya. Mulai dari seneng, galau, jengkel karena masalah, etc dah.

Hati itu memang bener-bener sesuatu ya, Subhanallah sekali Allah telah menciptakan sebuah organ yang bernama "Hati". Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan kepada kita tentang hal tersebut dalam sabdanya:
«أَلا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ» رواه البخاري ومسلم.

"Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging,
apabila segumpal daging itu baik, maka akan baiklah
seluruh tubuhnya, dan apabila ia jelek maka jeleklah
seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu
adalah hati".

Menurut sabda Rasulullah diatas, bisa disimpulkan bahwa jika ada seseorang yang berhati mulia, maka mulia juga orang tersebut. Intinya sifat orang tersebut tergantung pada bagaimana kondisi hatinya. Hati adalah motor penggerak utama yang menjadi penentu bagaimana kemudian anggota badan lain kita akan berbuat. Ibaratnya, hati dalam diri kita ini menjadi imam untuk organ-organ yang lain.

Bagaimana dengan hatiku sendiri? Ya, mana ada yang tau. Hehe. Aku belum bisa istiqomah dalam suatu hal menuju kebaikkan. Mungkin ini karena iman yang kurang tebal. Sampai saat ini, aku terus berjuang agar bisa istiqomah.

Terkadang, aku ingin berubah menjadi yang lebih baik dalam suatu hal karena termotivasi oleh seseorang dan teman yang lain, tapi tiba-tiba mulai tergoda untuk keluar dari jalur itu karena ada yang kelihatan lebih menyenangkan daripada "ajeg" dalam dunia baruku. Astaghfirullah, akhirnya kemakan rayuan gombalnya syetan juga.

Tapi hatiku punya isi, walaupun mungkin masih banyak yang mudharat. Sebagai remaja (ceileh remaja :3), aku juga punya perasaan dalam hatiku. Semua juga pasti juga pernah merasakan apa yang aku rasakan. Ayah dan Ibuku juga pasti pernah, kata BCL "Merekapun pernah muda," hehe. Semua pasti bisa menebak rasa apakah itu.

Karena perasaan ini, aku jadi seperti buah simalakama. Bingung mau menyudahi tapi tak mau karena sudah terjerat di dalamnya, jadi serba salah. Rasa ini juga ujian bagiku, pencari ilmu. Syukuri sajalah, karena rasa ini juga datangnya dari Allah.          

Sudah ahh, sekian dulu tulisan "kurang bermutu" dari saya. Sudah malam, besok mau mencari ilmu...
 
Wallahu 'alam bisshowab ^^
          
When the visions around you,
Bring tears to your eyes
And all that surround you,
Are secrets and lies
I'll be your strength,
I'll give you hope,
Keeping your faith when it's gone
The one you should call,
Was standing here all along..

And I will take
You in my arms
And hold you right where you belong
Till the day my life is through
This I promise you
This I promise you

I've loved you forever,
In lifetimes before
And I promise you never...
Will you hurt anymore
I give you my word
I give you my heart
 This is a battle we've won
And with this vow,
Forever has now begun...

Just close your eyes
Each loving day
I know this feeling won't go away
Till the day my life is through
This I promise you..
This I promise you..

Over and over I fall
 When I hear you call
Without you in my life baby
I just wouldn't be living at all...

And I will take
You in my arms
And hold you right where you belong
Till the day my life is through
This I promise you baby

Just close your eyes
Each loving day
 I know this feeling won't go away
Every word I say is true
This I promise you

Every word I say is true
This I promise you
Ooh, I promise you... 



  • NYSYNC - This I Promise You


......
This is one of my favorite songs. Aku suka lagu ini, maknanya dalem banget. Kalo dengerin lagu ini sebelum tidur rasanya jadi ayeeem, tenang.  Ini lagu lama sih, tapi aku nggak tau judulnya. Maklum lah, pertama kali dengerin lagu ini kalo nggak salah waktu SD. Terus waktu SMA coba browsing-browsing lagu romantis. Eh, ternyata ada lagu ini juga.

Di lagu ini aku paling suka lirik yang bagian reff. "And I will take you in my arms, and hold you right where you belong, till the day my life is through, this I promise you..." sama "I know this feeling won't go away". Itu seperti si laki-laki meyakinkan perempuannya. Ah, soo sweet banget lah lagu ini. Emang pas banget diputer setelah acara nikahan. Tapi kalo di daerahku sini, pasti dikit banget orang yang ngerti maknanya. Haha.


Sampai saat ini, saat aku lagi ngetik postingan ini aku nggak bosen-bosen muter lagu ini. Apalagi kalo banyak tugas, denger lagu ini kayak ada yang memotivasi. Seperti yang nyanyi itu adalah calon suami di masa depan. Ceilah. Haha.


Pengen deh suatu saat kalo aku nikah, suamiku nyanyi lagu ini buat aku. Aaa, pasti so sweet ya. Tapi saat-saat itu masih jauh di depan mata. Nggak tau lagi deh kalo Allah mempercepatnya. Hehe. 


Wallahu 'alam bisshowab.