Saya adalah penggemar berat kuliner. Awal mula saya tau merek Pizza ini, yaitu ketika saya duduk di bangku SD. Saya suka sekali baca buku atau majalah. Nah, waktu itu ada kiriman dari pembaca yang sedang menceritakan pengalamannya mentraktir teman-temannya makan di Domino's Pizza Kemang. Kala itu di jaman old saat masih pakai seragam merah putih, jangankan makan Domino's Pizza, makan Pizza Hut aja bisa diitung pakai jari. Apalagi saat itu di daerah tempat tinggal saya belum ada fastfood macam Pizza Hut yang buka cabang.  Jadi kalau mau makan Pizza harus pergi ke Surabaya dulu.

Hingga pada suatu ketika, muncul kebiasaan saya kalo lagi ada di kota besar, yaitu ngeliatin aplikasi ojek online. Terus lanjut ngecekin kuliner di menu food delivery. Eh ternyata di dekat rumah Kakak ada salah satu merek Pizza yang belum pernah cobain, yaitu Domino's Pizza. Sering sekali saya main ke rumah Kakak di Denpasar, tapi sekalipun belum sempat juga untuk memesan Domino's Pizza.

Minggu kemarin saya liburan lagi ke rumah Kakak. Karena tidak ada agenda yang mengikat, akhirnya saya memustuskan untuk pergi kulineran bersama Ibu di hari Ahad, sebelum balik kembali ke Lombok. Siang hari pukul 12.00 kami pergi mengendarai sepeda motor karena jarak Domino's Pizza tidak jauh dari rumah Kakak, hanya sekitar 3 kilometer saja.

Sampai di sana, ternyata tempatnya kecil yang terdiri dari dua lantai. Pada lantai satu hanya tersedia beberapa tempat duduk, sekitar 2 meja makan dan ada satu bangku panjang yang digunakan pembeli take away untuk menunggu pesanannya. Kalau untuk pembeli dine-in mungkin mereka makan di lantai 2. Pegawainya pun sedikit, satu orang di kasir, dua orang di dapur. Kalau tidak salah ingat dan tidak salah lihat, totalnya hanya ada tiga pegawai saja. Mungkin ada juga beberapa pegawai untuk delivery, karena di parkiran juga tersedia motor untuk melayani pesan antar.

Karena kasirnya hanya satu, jadi sebelum memesan saya harus sabar menunggu dia mondar-mandir mengambil kotak pizza yang sudah matang untuk diserahkan kepada pembeli take away. Beberapa kali si mbak kasir bilang, "Tunggu sebentar ya mbak,". Tapi saya tidak masalah sih, toh emang dia banyak kerjaan. Setelah lima menit menunggu, dia menyapa saya. Barulah saya mulai untuk memesan pizza yang saya inginkan. Kebetulan saat itu sedang ada promo buy 2 medium Pizza Rp 100.000 (diluar pajak 10%), padahal untuk dua buah pizza harga aslinya sekitar Rp 160.000. Jadi saya ambil promo itu dan coba memesan Meat and Meat dan American Classic Cheeseburger Pizza. Si mbak juga menanyakan, apakah saya ingin roti tebal atau tipis, saya memilih tebal. 

Domino's Pizza
Setelah menu sudah terpesan, saya mencari mencari tempat duduk untuk menunggu. Kira-kira 10 menit kemudian, pizza yang saya pesan sudah matang dan nama saya dipanggil. Mbak kasir mencocokkan menu pesanan saya yang terletak di nota dengan kotak pizza yang ada, semuanya pas. Kemudian saya meminta plastik kresek untuk membawa pizza tersebut dan kembali pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, saya mulai mencobanya. Pizza yang saya pesan ini tidak ada pinggirannya, toppingnya pun cukup simpel dan tidak berlimpah. Bisa juga ditambahkan pinggiran jika mau. Pizza pertama yang saya coba adalah Meat & Meat, toppingnya terdiri dari pepperoni, sosis, dan saus tomat. Terkstur rotinya lumayan, tapi tidak selembut PH. Roti gandumnya terasa sekali dan banyak butiran-butiran warna oranye, saya kurang tau apa itu. Mungkin seperti tepung panir gitu kali ya? Rasanya lumayan lah. Untuk ukuran medium di sini lebih kecil daripada pizza sebelah, diameternya sekitar 15 cm.

Pizza kedua yang saya pesan, yaitu American Classic Cheeseburger. Ini saya bawa balik ke Lombok, untuk makan malam dan masih sangat enak hingga keesokan harinya. Toppingnya terdiri dari daging cincang, saus tomat, dan saos keju. Rasanya kurang lebih sama seperti varian Meat & Meat. Kejunya tidak terlalu terasa karena tidak melimpah, hanya disiram di atasnya seperti saos gitu.

American Classic Cheeseburger Pizza, yang Meat & Meat Tidak Sempat Saya Foto
Jadi kesimpulan dari nyobain Domino's Pizza ini adalah, rotinya enak ngenyangin walaupun nggak selembut PH. Rasanya juga lumayan enak, toppingnya beraneka ragam. Harganya lebih murah dari PH. Mau beli lagi? Insyaallah kalau ada kesempatan pasti beli lagi untuk nyobain rasa yang lain. Selain itu stand Domino's Pizza juga terbatas di Indonesia, setau saya hanya ada di Jakarta dan Bali. Jadi, masih worth lah bagi saya untuk beli kesitu lagi.

Location:
Domino's Pizza
Jl. Teuku Umar Barat No.168B, Pemecutan Klod, Denpasar

Sampai jumpa di food review selanjutnya ;)

Assalamu'alaikum!

Hallo, sudah lama sekali ternyata saya tidak menuliskan opini saya di sini. Sebenarnya ada banyak sekali ide-ide atau sesuatu yang ingin dituliskan. Tetapi semua itu tiba-tiba sirna, karena penyakit "menunda". Baiklah, langsung saja ke topik bahasan.

Kali ini saya mau share tentang rencana liburan mendadak. Ceritanya, udah dari awal tahun ini saya bersama dua teman yang lain merencanakan untuk liburan ke luar negeri. Akhirnya, kami pilihlah Thailand sebagai destinasi liburan. Mengapa Thailand? Karena kami ingin mencari negara yang bahasanya berbeda dengan Indonesia. Selain itu, Thailand juga terkenal dengan kuliner dan barang-barangnya yang murah tapi berkualitas.

Lambat laun hal tersebut hanya menjadi sebuah wacana dan hilang kabarnya ditelan waktu. Hingga akhirnya, pada bulan September kemarin salah satu teman saya berkata bahwa semua wacana itu harus diakhiri. Baiklah, saya akhirnya memesankan tiga buah tiket untuk ke Bangkok. Nekat, haha. Padahal harga tiketnya nggak bisa dibilang murah banget sih, tapi daripada nggak jadi-jadi ya beli aja lah ya.

Hampir semua urusan tentang pemesanan tiket, hotel, hingga itinerary dipasrahkan ke saya. Saya sih oke-oke aja, soalnya seneng aja kalo disuruh nyusun jadwal plesiran. Oiya, untuk pergi ke Bangkok, kami memutuskan untuk berangkat dari Bali karena bisa ditempuh direct. Sedangkan untuk penginapan, saya memilih untuk tinggal di daerah "Khaosan Road". Karena infonya, daerah ini terkenal sebagai daerah backpacker, selain itu juga banyak makanan dan barang-barang murah di sini. Ya mungkin semacam Jalan Malioboro gitu ya kalo di Jogja. 

Berikut adalah contoh itinerary yang telah saya susun:



Karena ini adalah pengalaman saya yang pertama untuk ke luar negeri, jadi semua informasi yang saya kumpulkan untuk bisa menyusun itinerary tersebut adalah hasil dari blogwalking ke halaman blogger yang lain. Tapi ada satu hal yang masih menjadi PR saya, yaitu membuat rute tersebut jika ditempuh menggunakan bus atau BTS (Skytrain Bangkok). Untuk total pengeluarannya insyaallah akan saya rekap di akhir nanti ya, kalau sudah selesai traveling.

Bagaimana dengan jadwalnya, padat sekali bukan? Ahahaha, saking mau maksimalnya jadi mepet-mepet gitu waktunya. Tulisan ini juga akan saya gunakan sebagai saksi, apakah itinerary tersebut berhasil saya laksanakan dengan sebaik-baiknya, dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya di Thailand nanti. Bismillah, semoga kami semua diberi kesehatan dan kekuatan untuk traveling yang insyaallah akan kami laksanakan tanggal 25 Oktober mendatang. Aamiin yaa Rabbal alamin...



Tidak terasa dua tahun sudah saya mendapatkan amanah untuk bekerja. Setiap hari semenjak sudah bekerja, rasanya waktu bergulir dengan cepat sekali. Dari pagi ke malam, dari terang hingga ke petang. Dari memulai kegiatan di jam 5 pagi, hingga pulang kantor jam 5 sore. Bahkan terkadang bisa lebih dari jam 5 sore meskipun tidak lembur. Tiap hari rutinitasnya itu-itu aja. Bangun pagi, berangkat kantor, pulang, istirahat malam, pagi lagi.

Ceritanya, beberapa hari yang lalu saya nggak bisa tidur sampai jam 12 malam. Akhirnya buka-buka Google Maps dan kepikiran untuk liat 3D view tempat OJT dulu, kurang kerjaan banget sih emang ahaha. Pengen liat lagi, tempat-tempat yang dulu sering disamperin semasa OJT yang notabene berada di daerah agak mendalam.  Jadi, berikut ini adalah beberapa Tempat Kenangan Saat OJT di Talawi pada awal tahun 2016 silam.



Seharusnya tulisan ini saya post kemarin sih. Tapi baru sempet nulis pas tanggal 2 dini hari, jadinya saya post sekarang nggak apa-apa lah ya. 

Alhamdulillah, nggak kerasa udah masuk bulan Juni aja ya. Sebelumnya, pada tanggal 1 Juni ini saya ingin mengucapkan, Selamat Hari Lahir Pancasila yang ke-73. Semoga Indonesia semakin jaya selalu, aamiin. Alhamdulillah pagi tadi masih diberikan Allah kesempatan untuk mengikuti upacara dengan keadaan yang sehat wal afiyat. Bulan Ramadhan tak berarti kita harus malas-malasan dong, harus tetep semangat juga buat ikut upacara.

Selain Hari Lahir Pancasila, tanggal 1 Juni adalah tanggal yang istimewa dan akan selalu saya kenang seumur hidup. Iya, karena itu adalah tanggal pengangkatan saya sebagai pegawai baru. Pada tanggal 1 Juni 2016, tepatnya dua tahun yang lalu, pengabdian saya bermula setelah sebelumnya harus melewati masa Prajabatan selama enam bulan. Rasanya bagaimana? Jangan ditanya, pasti lega dan bangga sekali atas pencapaian level baru dalam kehidupan saat itu. Kalau sudah diangkat jadi pegawai, berarti saya sudah resmi bekerja. Sudah resmi bekerja, artinya saya harus bertanggung jawab atas kehidupan saya sendiri, dalam artian sudah harus mandiri secara finansial. Dan juga ada rasa ketakutan tersendiri bila tidak bisa melaksanakan amanah baru ini, karena kelak Allah pasti akan meminta pertanggungjawabannya. 

Masih terkenang dalam ingatan bagaimana dagdigdugnya saya saat pembagian tempat kerja bagian ke-dua setelah dikumpulkan di kantor wilayah. Alhamdulillah, bisa ditempatkan di kota Mataram padahal sebelum-sebelumnya saya udah mikir yang aneh-aneh aja. Kemudian mulai masuk kantor baru, kenalan dengan orang-orang baru dengan gaya yang masih malu-malu. 

Banyak hal yang saya dapatkan setelah dua tahun bekerja yang Alhamdulillah sampai sekarang masih di tempat yang sama. Mulai dari ditunjuk ikut jadi tim A, B, C, dll hingga mengikuti banyak pelatihan. Karena sudah dua tahun bekerja, pasti saya juga sudah kenal dengan hampir semua rekan-rekan kerja di kantor, khususnya di ruangan saya. Rekan kerja di ruangan itu rasanya sudah seperti keluarga sendiri. Kami sering bikin dan makan rujak buah bareng di ruangan, kalau nggak gitu pesen gorengan di dapur buat dimakan bareng di ruangan. Pokoknya temen-temen ruangan saya itu kompak deh, mulai dari kerja sampai makan-makan kompak terus, ahaha. Intinya dibandingkan dengan tahun lalu, di tahun kedua ini saya banyak mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru, dan juga kisah baru tentunya. Oh iya satu lagi, sekarang juga keadaannya baru, karena di tahun kedua ini Ibu ikut saya untuk tinggal di Lombok. 

Lagi-lagi, kok nggak kerasa udah dua tahun aja ya? Sudah dapat cuti untuk yang kedua kalinya nih, ahaha. Kadang juga saya mikir, kayaknya kontribusi saya masih kurang deh untuk perusahaan tercinta ini. Semoga di tahun selanjutnya, saya bisa menjadi pegawai yang lebih baik, lebih banyak kontribusinya, dan lebih bersungguh-sungguh dalam bekerja karena itu adalah salah satu bentuk ibadah. Dan untuk ibadah, harus kita lakukan dengan sebaik-baiknya untuk Allah. 

Sekian kisah saya untuk hari ini, sampai berjumpa kembali :)



Ceritanya, tadi sore (24/5) saya habis dapet tugas buat jadi MC di acara buka bersama yang diadain sama kantor. Awal saya tau kalo ditunjuk jadi MC ya jelas saya ngambek lah. Udah tau mental kalo ngomong depan orang banyak lemah gini, eh dipilih jadi MC. Tapi saya nggak punya pilihan lain selain dilakoni. Ya sudahlah, akhirnya saya jalani aja.


Ada perasaan seneng dan sedih kalau di feed sosial media ngeliat temen sebaya lagi posting foto anaknya yang masih kecil. Kalau senengnya sih udah wajar lah ya, memang pada dasarnya hampir semua manusia suka liat anak kecil, apalagi yang masih bayi gitu kan imut lucu. Tapi loh kok ada sedihnya juga? Ya, mungkin bisa ditebak lah. Jawabannya, karena saya pengen punya juga, ahaha. 

Kemudian saya mikir-mikir lagi, apa kamu sudah siap kalau punya anak? Apa kamu sudah siap mendidik? Apa kamu sudah siap dengan ilmu-ilmu yang akan kamu terapkan dan kamu berikan ke mereka? Ya meskipun semua kesiapan itu akan hadir secara naluriah bersamaan dengan hadirnya anak, tapi menurut saya alangkah baiknya jika diri ini juga ikut mempersiapkan ilmu dan mental biar lebih sempurna. Karena anak itu amanah kan ya, tanggungannya berat kalau tidak mampu mendidik dengan baik. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti akan dimintai pertanggungjawaban. 

Kalau ingin punya anak yang pinter, sholeh, hafidz/hafidzah, ya saya sebagai calon ibunya ini juga harus belajar biar banyak ilmu agar jadi Ibu yang sholehah dan juga harus mulai menghafalkan Al-Qur'an sedikit demi sedikit. Karena anak itu kan terlahir sebagai kertas putih, tinggal kita sebagai orangtua mau nulis apa di situ. Dan kebiasaan orangtua itu juga akan berpengaruh dengan tulisan pada lembar putih tersebut. Anak kecil kan cenderung mencontoh orangtuanya. Kalau misal saya (naudzubillah) males-malesan aja, bisa jadi nanti anaknya ikut nyontoh males juga. Jadi harus dipersiapkan ilmu dengan sebaik-sebaiknya. 

Kalau punya ponakan masih kecil di rumah, bisa dipraktekkan untuk kita belajar parenting. Contohnya saya, hehe. Belajar mandiin ponakan yang masih bayi, ngajakin dia jalan-jalan, nyuapin saat makan, dan ngajarin ponakan yang udah besar kalau dia ada PR. Mandiin anak bayi sih nggak terlalu berat ya, tapi ngajarin saat ngerjakan PR ini yang agak susah bagi saya. Kalau dianya agak males-malesan, terkadang saya masih suka nggak sabaran, rasanya pengen nangis aja kenapa kok dia nggak nurut. Jadi, kayaknya saya harus belajar untuk lebih sabar nih, haha 😂

Tidak ada yg tau kamu sudah siap untuk punya anak (tentu saja menikah dulu ya) atau belum, kecuali diri kamu sendiri dan pastinya Allah. Kamu yang tau, kapan kamu siap mental untuk mengasuh dan mendidik anak. Kamu juga yang tau, kapan kamu siap untuk menikah, berumah tangga, dan memiliki keluarga. Kamu harus bisa membedakan, mana emosi dan mana yang benar-benar niat. Jangan hanya karena temen sepantaran posting foto anaknya, trus kamu juga jadi pengen punya gitu. Bukan. 

Menikah dan punya anak itu bukan lomba. Jadi, kamu nggak usah kesulut emosi ikutan pengen juga, padahal kamu sendiri belum siap ilmu dan mental. Kalau belum siap ya siapkan apapun yang menurut kamu perlu, contohnya seperti apa yang ada di paragraf ke-dua. Banyak-banyak belajar ilmu parenting. Meskipun kadang prakteknya nggak sesuai teori, tapi setidaknya kita punya wawasan bagaimana cara mengasuh dan mengasihi mereka. Karena mereka adalah calon generasi Rabbani, umat yang akan dibanggakan oleh Rasulullah di akhirat nanti. Jadi, persiapkan semua dengan sebaik-baiknya. Dan yang paling utama, niatkan semua sebagai ibadah. 

Setelah bertanya pada diri sendiri, ternyata saat ini saya masih belum siap. Masih banyak sekali PR yang harus saya tuntaskan sebelum pantas menjadi Ibu, haha. Semangat mempersiapkan diri untuk mencetak generasi terbaik!



Hampir dua bulan yang lalu tepatnya pada hari Sabtu tanggal 18 November 2017, saya mengantar Ibu saya ke Bali untuk bertemu dengan cucu-cucunya. Rencananya, beliau akan menginap di rumah Kakak saya selama sebulan. 


Malam hari menjelang tidur selalu menjadi waktu yang tepat untuk merenung. Melukiskan pemikiran ke dalam sebuah tulisan. Tulisan ini adalah suatu refleksi, renungan bagi diri sendiri yang terkadang masih lalai. 

Kali ini menjelang tidur, terlintas di pikiran saya tentang dunia.Terkadang, saya sendiri pun masih bertanya-tanya dalam hati. Untuk apa saya mencari ilmu bertahun-tahun? Untuk apa saya membuat suatu postingan di media sosial? Untuk apa saya jatuh bangun meraih cita-cita? Untuk apa saya capek-capek berwisata ke beberapa daerah? Untuk apa saya melakukan ini dan itu? Benar-benar untuk beribadah kah atau hanya untuk mengejar kesenangan dunia? Untuk apa sih sebenarnya saya bekerja jauh-jauh hingga ke luar pulau dan rela terpisah dengan keluarga? Untuk benar-benar mencari ridho Allah kah, atau hanya untuk memperkaya diri dan memuaskan nafsu akan harta? 

Dunia itu luas tapi kecil, fana tapi mempesona. Dunia itu sementara, tidak kekal. Mobil, motor, handphone, tanah, rumah, sebenarnya semua itu adalah sarana yang kita gunakan untuk beribadah. Beribadah untuk mengumpulkan bekal akhirat, mengejar pahala yang telah Allah janjikan di balik setiap kebaikan yang telah kita perbuat. Semua yang kita miliki di dunia ini, suatu saat pasti akan kita tinggalkan. 

Jika kita telah tiada, maka yang tersisa hanyalah tinggal kenangan di ingatan orang lain. 
"Oh iya, ini dulu mobilnya si Alm. A,"
"Dulu Alm. B kerja keras sekali ngumpulin uang untuk bisa beli ini,"
"Rumah ini dulu yang desain Alm. C sendiri, katanya biar tenang tinggal di rumah impian yang nyaman,"

Selepas itu, semua harta benda tersebut akan berpindah tangan ke ahli waris kita. Saat kita diantar menuju ke tempat peristirahatan terakhir, mereka tidak akan ikut dikubur bersama jasad kita. Mobil mewah yang kita miliki di dunia, tidak akan dapat kita rasakan nyamannya lagi saat dikendarai. Baju mewah dan bermerk, tidak akan kita gunakan lagi untuk menghangatkan tubuh kita di dalam dinginnya liang lahat. Uang yang kita tabung dahulu, tidak akan dapat menebus dosa yang telah kita lakukan. Semuanya tidak akan berarti lagi. Kecuali jika ahli waris kita menggunakan harta yang kita tinggalkan untuk menghasilkan amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah tiada. 

Apa yang akan kita bawa hingga di akhirat nanti? Semua pasti sudah tau jawabannya. Iya, satu-satunya harta yang kita miliki hingga di akhirat nanti adalah amal baik. Tapi, sudah cukupkah amal baik yang kita tabung di dunia ini untuk kita bawa jika sewaktu-waktu malaikat Izrail menjemput? Semua tidak akan pernah tahu sampai kapan kontraknya di dunia akan berakhir. Saya, kamu, kita semua tidak akan pernah tahu kapan waktu itu akan tiba. Mungkin jauh beberapa tahun ke depan, atau bisa jadi sedetik setelah ini. Semua tidak akan pernah mengerti. Maka jangan sia-siakan setiap waktu yang kita miliki hingga terbuang percuma. 

Setelah ini, tanyakan kembali pada diri masing-masing. Untuk apa tujuan hidupmu? Apa niatmu yang sesungguhnya dalam melakukan setiap sesuatu? Jadikanlah setiap detik waktu yang kita miliki ini untuk menghasilkan amalan sholeh. Niatkan segala sesuatu yang kita lakukan untuk beribadah. Jangan pernah terlintas sedikit pun dalam benak ini untuk berbuat keburukan atau bermaksiat. Rugi deh, bener-bener rugi! Jangan niatkan apa yang kita kerjakan ini hanya untuk dunia. Niatkan semuanya semata-mata hanya karena Allah. Memang yang berat itu istiqomah dalam ketaqwaan, karena dia berhadiah surga.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah yang selalu istiqomah di dalam ketaqwaan. Semoga kelak kita dapat berkumpul kembali di jannahNya yang terbaik. Aamiin yaa Rabbal alamiin. 

Semangat, istiqomah, niat karena Allah! 😇

Assalamu'alaikum!

Hai! Sudah lama saya tidak meninggalkan jejak pena saya di sini. Rupanya sekarang sudah berganti tahun saja ya, wah nggak kerasa. Meskipun sudah memasuki pertengahan bulan Januari, tapi aroma tahun baru masih hangat terasa. Tahun baru, usia baru, pasti identik dengan suatu hal bernama "resolusi" ataupun "wishlist". Saya punya banyaaak sekali resolusi, tapi belum sempat untuk menuangkannya ke dalam tulisan satu-persatu. 

Namanya juga kehidupan ya, jadi kita kudu punya mimpi ataupun target yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu. Urusan gagal meraih atau tidaknya itu belakangan saja, yang penting dicatat biar nggak lupa. Nah, tiba-tiba saja sekarang saya ingin menuliskan beberapa wishlist traveling saya di tahun 2018 ini. Apa sajakah itu? Here we go...

1. Labuan Bajo

Berawal dari percakapan antara saya dengan mbak Betha (senior di kampus yang sekarang satu perantauan) saat sedang di mobil, tiba-tiba munculah ide untuk piknik ke sana. Awalnya sih saya nggak ada niatan untuk pergi ke Bajo. Tapi mendengar ajakan dari mbak Betha yang penuh semangat dengan jiwa petualangnya yang tinggi, saya jadi tertarik juga. Karena ternyata, keindahan alam di Labuan Bajo dan sekitarnya itu sangat indah. Sepertinya saya harus melihat dan menikmati ciptaan Allah yang ada di sana. Mumpung masih muda dan fisik insyaAllah masih kuat. 

Rencananya, saya ingin keliling ke Labuan Bajo, Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, Danau Kelimutu, dan sekitarnya. Untuk transportasi, mbak Betha ngajakin saya buat naik kapal aja via Pelabuhan Lembar ke Labuan Bajo yang memakan waktu kira-kira 21 jam. Terus saya mikir, yaa Allah, saya naik kapal dari Lombok ke Bali yang hanya 4-5 jam aja udah bosen, apalagi ini yang sampai 21 jam dan bahkan bisa lebih! Kemudian Ibu saya kasih saran untuk naik pesawat aja. Memang sih meski naik pesawat pun bakalan transit di Bali, tapi setidaknya lebih nyaman lah ya. 


Pulau Padar

Komodo Dragon
Kalau naik kapal kira-kira bayarnya Rp 200.000 one way kalo nggak salah, tapi kalau pesawat sekitar Rp 900.000-1.200.000 one way. Jadwal keberangkatan untuk kapal hanya ada satu minggu sekali yaitu hari Sabtu, begitupun dari Bajo ke Lombok juga hanya ada di hari Sabtu. Sedangkan kalau naik pesawat kan bisa fleksibel karena banyak pilihan. Untuk penginapan saat saya cek-cek sepertinya ada sih yang tarifnya Rp 300.000-an per malam untuk dua orang. Bahkan tadi saya pas cek paket pesawat PP ditambah dengan penginapan 5 hari bisa jadi Rp 3.000.000an aja loh. 

Kalau ini jadi, kira-kira saya bakal berangkat sekitar tanggal 28 April dan pulang tanggal 3 Mei 2018. Kenapa ambil tanggal itu? Karena ada satu tanggal merah di tanggal 1 Mei, lumayan jadi nggak usah cuti panjang-panjang, hehe. 

2. Thailand
 
Jujur aja, sebenernya saya belum pernah traveling ke luar negeri karena saya dulu berpikiran untuk nggak pengen keliling LN sebelum umroh dulu. Tapi sekarang saya rasa sepertinya selagi ada kesempatan untuk ke LN meskipun tidak umroh dahulu, kenapa nggak disikat aja

Kenapa saya pilih Thailand? Karena saya tertarik dengan culture nya, bahasanya yang beda dengan Indonesia, dan tentu saja dengan kulinernya. Saat liat di akun food reviewer di instagram,  sepertinya street food Thailand itu unik-unik dan enak gitu. Meskipun kita juga nggak bisa sembarangan makan, harus pinter-pinter milih yang halal. 

Selain itu, Thailand adalah negara bebas visa untuk orang Indonesia dengan batas waktu tertentu. Jadi kita kan nggak perlu repot-repot urus visa ya, cukup pake paspor aja. Dan lagi, kata kakak saya kalau mau belanja di Thailand itu lumayan murah. Jadi bisa bawa oleh-oleh agak banyakan nanti 


Thailand
Thai Street Food
Rencananya kalau jadi, saya ingin ke sana sekitar bulan Juli awal gitu. Karena saat cek harga tiket pesawat maskapai AA, harga yang murah ya emang di tanggal segitu. Udah gitu aja 

3. Makassar dan Tana Toraja

Sudah dari lama saya pengen ke Makassar. Keinginan itu sudah muncul dari bulan Oktober tahun kemarin. Alasannya adalah, biar pernah menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi, hahaha. Padahal saya sendiri juga nggak tau nanti bakalan mau jalan-jalan ke mana saat di Makassar. Yang jelas nggak hanya ke pantai Losari aja sih. 

Saya ingin sekali hunting kuliner Makassar seperti Konro Bakar, Coto Makassar, Palu Basa, Es Pisang Ijo, Mie Titi, Pisang Epe, dan lainnya. Selain itu, saya juga pengen banget ke Tana Toraja, ke Kete Kesu, terus liat kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung. Sepertinya akan menjadi sesuatu yang menarik. 


Tana Toraja
Air Terjun Bantimurung
Kupu-kupu di Bantimurung
Kalau ditanya kapan rencananya, saya juga masih bingung, ahaha. Mungkin di akhir tahun 2018 saja lah biar sambil bisa nabung-nabung. 

Itulah beberapa tempat yang ingin saya kunjungi untuk traveling di tahun 2018 ini. Saya nggak berani nulis banyak-banyak, cukup 3 ini dulu saja. Kalau pada kenyataannya nanti dikasih lebih ya Alhamdulillah. Semoga saja Allah memberi saya rejeki dan kemudahan untuk bisa traveling ke tempat-tempat tersebut. Dan semoga ini tidak hanya sekedar menjadi wacana :')

Kalau kamu, pengen traveling ke mana di tahun 2018 ini? 


Jika mendengar kata 'Pulau Lombok', pasti tempat jalan-jalan yang pertama kali terlintas di pikiran adalah Pantai Senggigi ya? Iya, saya dulu juga berpikiran seperti itu. Pesona Pulau Lombok seakan tidak lepas dari keindahan Pantai Senggigi. Tetapi, di daerah sekitar pesisir Lombok Tengah juga tersebar bermacam-macam pantai yang keindahannya tak kalah dengan Pantai Senggigi. Saya ada refrensi 5 Pantai Cantik di Lombok Tengah. Pantai apa sajakah itu? Yuk kita telusuri satu-persatu!

1. Pantai Kuta Lombok
Pantai Kuta
Siapa bilang pantai Kuta hanya ada di Bali? Lombok juga punya loh! Pantai yang mempelopori adanya ayunan di pinggir pantai ini terletak di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Jika berangkat dari kota Mataram, kita membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Jalan menuju ke pantai Kuta sangatlah lancar karena tidak ditemukan adanya kemacetan di sekitar daerah ini. Pantai ini memiliki pasir berwarna putih kecoklatan.

Saat itu, saya pertama kali singgah di pantai Kuta Lombok pada pukul 12.00, siang hari bolong. Otomatis sejak langkah pertama dan seterusnya terasa sangat panas dan menyengat sekali. Apalagi dari parkiran hingga menuju ke bibir pantai hampir tidak ada pepohonan yang bisa dipakai berteduh.

Pengunjungnya lumayan banyak, mulai dari wisatawan lokal hingga asing. Sepanjang berada di sini, anda akan banyak dihampiri oleh pedangang yang menjajakan kaos, kain tenun Sasak, maupun souvenir-souvenir lainnya. Tolaklah secara halus dan jangan coba bertanya-tanya jika anda tidak berniatan untuk membeli. Biar nggak bikin PHP gitu, hehe.

Spot foto favorit saya saat berada di pantai ini adalah di bibir pantai. Lekuk perbukitan di sisi belakang pantai bisa menjadi background yang indah. Di sisi kanan pantai ada plang di atas perbukitan bertuliskan "Kuta Mandalika" dan papan bertuliskan "Kuta Lombok" di sisi kiri depan pantai ini juga bagus buat foto. Yang paling penting, jangan lupa bergaya di atas ayunannya biar hits.


2. Pantai Tanjung Aan
Pantai Tanjung Aan
Pantai Tanjung Aan berjarak sekitar 5,2 km dari Pantai Kuta atau 60 km dari kota Mataram. Pantai ini memiliki pasir bertekstur halus dan butir-butir seperti merica berwarna putih. Warna airnya terlihat biru berkilau jika dilihat saat panas terik. Jika berkunjung ke pantai ini jangan lupa untuk menyempatkan diri berkunjung ke Bukit Merese, karena letaknya hampir berdekatan.

Karena letaknya yang berdekatan dengan Pantai Kuta, maka suasananya juga kurang lebih sama. Di belakang pantai terlihat lekukan bukit yang menambah indahnya pemandangan. Selain itu, masih banyak pula pedagang yang menawarkan dagangannya, mulai dari anak-anak sampai inaq-inaq.

Spot foto favorit saya yaitu di dekat papan selancar yang bertuliskan "Pantai Tanjung Aan", di dekat bibir pantai dengan background bukit-bukitnya, dan tak lupa di atas ayunannya biar lebih hits.


3. Pantai Mawun
Pantai Mawun
Pantai ini berjarak sekitar 52 km dari Kota Mataram. Jalan untuk mencapai pantai ini cukup naik-turun dan berliku. Keindahan Pantai Mawun semakin bertambah dengan keberadaan dua bukit yang mengapitnya. Pasirnya berwarna putih resik. Di sini masih banyak ditemukan pedagang yang menjajakan kaos dan kain tenun Sasak kepada pengunjung. Bagi kalian yang takut anjing, hati-hati kalau ke sini. Pasalnya di sini lumayan banyak anjing liar, tapi mereka nggak galak kok. Cukup diusir "hushh..hushh.." aja mereka udah pergi.

Dulu, temen-temen saya selalu iming-iming kalau Pantai Mawun itu bagus banget, warna pantainya biru. Temen saya yang nggak doyan pantai bilang ke saya kalau dia sampai takjub dengan keindahan Pantai Mawun. Tapi, saat saya ke sana kenapa biasa aja ya? Mungkin karena saya kesana pas lagi mendung, jadi air pantainya nggak keliatan biru, malah keliatan ijo.

But so far, Pantai ini recommended lah. Anda bisa santai-santai di kursi pantai sambil menikmati sebutir kelapa muda seharga 10rb. Eitsss, tapi jangan lupa bayar jasa penyewaan kursi pantainya juga, ya!


4. Pantai Selong Belanak
Pantai Selong Belanak
Pantai ini bisa dikatakan Pantai yang paling deket dari Mataram. Atau mungkin hanya perasaan saya saja? Jarak dari Mataram ke Pantai ini sekitar 51 km

Dari semua pantai yang ada, entah kenapa saya paling jatuh cinta sama Pantai ini. Pasirnya putih bersih, airnya biru berkilau ditambah banyak bule ganteng yang mau main selancar seliweran sangat memanjakan mata saya. Sekali lagi, saya sampai ke pantai ini saat siang hari bolong pukul 12.00. Mungkin, keindahan pantai hanya bisa dinikmati saat matahari bersinar sangat terik.

Di sini tidak ada pedagang souvenir lagi sih, tapi ganti jadi orang yang menawarkan jasa massage. Tapi untuk saya yang nggak biasa, jadi aneh gitu kalo ada yang nawarin massage pinggir pantai sekalipun yang nawarin sama-sama perempuan. Sama dengan Mawun, duduk di kursi pantai sini ada tarifnya sekitar 70rb.


5. Pantai Mawi
Pantai Mawi
Saat pertama masuk di gang kecil menuju pantai ini, dalam diri langsung mbatin, "Mana Pantainya? Kok nggak sampai-sampai ya? Jangan-jangan nyasar nih,". Karena jalannya sangat sempit dan 'ndelusup'. Jarak dari Mataram ke Pantai Mawi sekitar 55 km. Jalannya emang bener-bener kecil dan sempit, mirip jalan setapak di sawah-sawah gitu. Kalau ada mobil mau papasan kita harus pinter-pinter nempatin posisi.
 
Begitu sampai di Pantai ini, lagi-lagi saya mbatin, "Kok sepi ya? Ini di Lombok apa di Luar Negeri sih?". Pasalnya, hampir semua pengunjung di pantai ini adalah bule dan itu cuma beberapa orang saja. Yang orang lokal cuma yang jaga warung aja. Rata-rata mereka ke sini untuk snorkeling atau sekedar santai-santai di pinggir pantai saja.

Pasir di Pantai Mawi bulet-bulet kasar seperti Merica. Di pinggir pantai terdapat bukit batu yang kalau dibuat foto instagramable sekali. Airnya juga bening banget karena pasirnya gede-gede, jadi ga bikin butek. Di bibir pantai banyak sekali cangkang kerang dan keong yang lucu-lucu.

Sebenarnya, sebelum tiba di pantai Mawi, kita akan bertemu dengan dua jalan percabangan. Kalau belok kanan ke Pantai Mawi dan kalau belok kiri ke Pantai Cemeti. Karena waktunya kesorean, jadi kami tidak sempat mampir ke Pantai Cemeti deh.

Berikut ini saya kasih bonus foto dari 5 pantai tersebut ya: 
Kuta Lombok View
Tanjung Aan View
Tanjung Aan View
Mawun View
Selong Belanak
Mawi View
Mawi View
Pantai Mawi yang Jernih
Rumah Keong dan Karang di Mawi
Penjual Cilik
Selong Belanak View
Bayi Kepiting di Selong Belanak
Pantai Mawi
Sekian sedikit informasi tentang 5 Pantai cantik di Lombok Tengah yang pernah saya kunjungi. Kalau saya ada kesempatan explore lagi, InsyaAllah akan saya tulis info tentang pantai yang lainnya. Semoga informasi ini memberi manfaat ya.

Ada beberapa kenangan yang tersimpan di memori saya jika mengingat masa-masa On The Job Traveling Training atau yang biasa disingkat OJT. Masih beberapa bulan setahun yang lalu sih, jadi Alhamdulillah masih banyak yang diingat.



Assalamu'alaikum semua! Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis tentang Food Review. Padahal ada banyak sekali bahan yang bisa dijadikan untuk Food Review, tetapi semua itu terkalahkan oleh rasa malas dan capek yang kokoh tak tertandingi. *kayak iklan semen aja*