Sebelum bercerita tentang hari pertama, saya mau sedikit flashback tentang keberangkatan kami. Jadi, sebelum berangkat ke bandara kami janjian buat kumpul di rumah kakak Saya, di daerah Monang Maning. Kemudian, kami berangkat ke bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada pukul 22.30 WITA pakai Go-Car. Sampai di sana, kami langsung menuju ke tempat check-in. Seperti biasalah, sebelum masuk ke bandaranya pasti ada Bapak-bapak Avsec yang nanyain tiket sambil nanya-nanya, "Mau liburan ya mbak di Bangkok?". Lah kita bertiga nih sukanya cekikan mulu sambil jawab, "Iya Pak mau liburan,". Bapaknya sampek heran dan nanya, "Kok ketawa-ketawa mbak?". Entahlah, mungkin beliau heran dengan kerecehan kami.

Udah sampai di dalem bandara, lanjut lah kami nyari counter check in AirAsia. Satu per-satu lorong kami telusuri. Dari mulai ujung ke ujung, kemudian balik lagi sampai dua kali. Mana nih counter AA, kok nggak ada? Apa karena efek udah malem dan mengantuk ini jadinya kami nggak ngeliat. Spai di lorong terakhir, kami noleh ke atas ada tulisan seperti ini. Oh, ternyata maskapai AA counter check in nya beda toh, dia ada di satu lantai sendiri.

Akhirnya kami jalan menelusuri lorong jalanan menuju counter. Sambil hati ini masih bingung dan bertanya-tanya, "Eh ini bener ta rek?". Tetep aja cekikikannya belom ilang. Dan ini dia, akhirnya ketemu juga meskipun agak capek dan lelah jalan.

Setelah check in, kami liat-liatan Boarding pass-nya. Lah kok ada satu dari kita nggak duduk sederet sih? Padahal kan pesennya jadi satu kode booking. Disitu kami merasa sedih. Masa iya perjalanan ke negeri orang, ada satu dari temen kita yang harus duduk sendiri? *ah lebay*

Counter Check In
Next, Immigration
Kemudian, kami menuju ke tempat imigrasi. Untuk sampai ke sana dari counter AA, kami muter lagi nih. Letak tempat masuk imigrasinya ada di depan counter check in maskapai yang sebelumnya kami puterin. Sebelum ke imigrasi, kami harus melewati security check lagi. Daaan, ada drama terjadilah drama pertama dimana mereka menemukan air di dalam tas saya. Teman saya, mbak Dimmy juga bawa air tapi ukurannya kecil banget. Ini juga gara-gara mbak saya sih, katanya nggak apa-apa bawa air ke dalem gate karena dia dulu lolos aja. Eh ternyata sekarang terjadi di saya, disuruh buang dong airnya. Saya tanya ke mereka apa boleh saya minum airnya di kursi di belakang security check. Eh mereka bilang nggak boleh dengan nada yang tegas banget. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk di kursi itu dan menunggu mbak Dimmy untuk kembali ke depan buat ngabisin minum. Eh saya kembali diteriakin lagi, "Nggak boleh minum di situ loh mbak,". Iya Ibuk, saya paham. Mungkin mereka takut saya ngelanggar kali ya, jadinya teges banget.

Setelah mbak Dimmy dateng, keluarlah saya ke depan. Dan air mineral 600 ml yang saya bawa, habis sudah dalam sekejap. Ternyata, emosi bikin cepet haus :(


Bawa Air Botol Dilarang Masuk
Kemudian, sampailah kami ke tempat imigrasi. Untuk imigrasi warga Indonesia sendiri antriannya nggak banyak sih, jadi nggak terlalu lama berdiri. Seperti biasa, pihak imigrasi akan memeriksa paspor kita dan akan bertanya, "Mau liburan ya di Thailand? Berapa hari? Sama rombongan itu?". Udah sih pertanyaannya gitu aja, nggak ada syarat-syarat lain yang harus ditunjukkan.

Setelah dari imigrasi kami langsung menuju ke gate 1A, sesuai dengan apa yang tertulis di boarding pass. Ternyata gate internasional itu penuh banget, meskipun saat itu sudah hampir jam 12 malam. Sedangkan kursinya kurang banyak. Banyak sekali saya lihat warga asing duduk lesehan, sambil nunggu panggilan boarding. Termasuk kami juga, leyeh-leyeh manja di lantai.


Menunggu Boarding
Karena tadi saya minum banyak banget ngabisin air botol 600 ml, jadinya kebelet pipis. Pergilah saya ke kamar mandi. Sampai di sana saya shock berat. Apakah kalian tau seperti apa kondisinya? Jorok sekali pemirsa, bau banget. Ada yang tombol flush-nya nggak bisa alias rusak, ada yang klosetnya penuh dengan tisu, ada yang banyak warna kuningnya. Pokoknya jorok banget, saya nggak tega mau pipis. Baru kali ini saya liat toilet kayak gitu. Akhirnya, saya ngikutin saran mbak Dimmy buat pipis di tempat disabilitas. Meskipun agak kotor, tapi masih layak pakai lah. Nggak apa lah ya pakai toilet punya disabel, dikarenakan kepepet berat. Lagipula waktu itu juga nggak ada yang ngantri. Entah kenapa pula kamar mandi di bandara keberangkatan internasionalnya kotor banget gitu. Mungkin karena udah malam banget kali ya, petugasnya udah pada pulang, nggak ada yang bersihin. Disamping itu juga kan masyarakat dari luar negeri sana ada yang nggak terbiasa toilet pakai air. Jadi, yah begitulah.

Oke drama kamar mandi selesai. Kami tinggal nunggu panggilan boarding aja nih sambil tiduran. Ngantuk sekali, capek juga karena siangnya abis kerja. Rasanya mata ini berat sekali pengen nutup, kayak ada lemnya gitu. Lalu saya liat jam sambil berkata ke temen-temen, "Udah jam satu tapi kok belum ada pengumuman boarding ya?".

Mbak Putri kembali memastikan nomer gate tempat kami berada saat ini. "Bener kok gate 1A. Tadi di counter bilangnya gate liat di layar. Aku tadi liatnya ya gate 1A. Eh bentar-bentar aku liat ulang lagi deh," katanya sambil berjalan menuju ke layar.

Dan benar saja, di sana tertulis bahwa untuk tujuan Don Mueang adalah melalui gate 8. Bisa ya tiba-tiba berubah gini tanpa ada pemberitahuan. Mana kurang dikit lagi jam 01.30 pula, kan boarding. Apa kami yang kurang fokus dengerin pengumuman karena ngantuk ya? Ahaha, entahlah. Yang jelas, ini adalah drama ke-tiga.


Lari Dari Ujung ke Ujung
 Segera kami berjalan menuju ke gate 8 yang ternyata letaknya berada di paling ujung. Gate kami tadi 1A, letaknya juga di paling ujung. Jadilah kami berjalan dari ujung ke ujung. Di seperempat perjalanan, kami mendengar pengumuman bahwa ada pengumuman panggilan boarding untuk pesawat yang akan kami tumpangi. Sedangkan kalau tidak salah, saat itu kami masih sampai di gate 2. Nah loh gimana nih, nggak ada pilihan lagi selain lari. Kami lari sekuat tenaga, jangan sampai ketinggalan kan bikin sedih. Udah ngantuk, capek, kami harus lari dengan menggendong tas ransel gede-gede pula. Ahahaha, lucu banget lah drama ketiga kita ini. Kami juga melihat ada beberapa penumpang yang lari-larian kayak kami untuk menuju ke gate 8.

Alhamdulillah Belum Ketinggalan 
Jarak antara gate 1A dan 8 sekitar 500 meter. Alhasil, kami sampai di gate 8 sambil ngos-ngosan, keringetan, dan gemeter saking capeknya. Alhamdulillah penumpang yang lain belum pada boarding, mereka masih antri di pintu gate. Entahlah kenapa kok bisa-bisanya ya pindah gate tanpa woro-woro? Sekali lagi, mungkin saat itu sayanya yang kurang ngeh karena ngantuk (?)

Alhamdulillah, setelah sekian drama terlewati akhirnya kami bisa boarding ke pesawat dengan aman. Ini adalah kali pertama saya terbang menggunakan maskapai AA. Ternyata, jarak antar kursinya agak sempit ya daripada maskapai L**n Air. Untuk penerbangan 4 jam dari Denpasar ke Bangkok jadi lumayan terasa capeknya. *yaiyalah, ono rego ono rupo, Sher. Ehehe*

Selama penerbangan, alhamdulillah saya dan teman-teman tidak menemui kendala yang berarti. Hanya saja ada satu-dua kali goncangan saat pukul 03.00 dini hari. Mungkin turbulensi. Saya agak was-was sih, karena mbak pramugarinya ngasih pengumuman sambil tarik nafas kayak orang ngos-ngosan ketakutan gitu. Tapi alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa. Alhamdulillah pula, akhirnya kami bisa landing cantik di Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok. Finally! :)

Oh iya, pas di pesawat kami dikasih kertas untuk diisi yang nantinya harus dikumpulkan di imigrasi Thailand, di bandara. Ini penampakannya...

Demikian sedikit cerita drama dan perjalanan kami menuju ke Thailand. Cerita tentang hari pertamanya akan segera menyusul ya, insyaallah. See you, warganet! :)



Backpacker Manja ke Thailand (Part 1) - Preface

Assalamu'alaikum!

Eh nggak kerasa udah hari Ahad lagi aja nih, selamat hari Ahad! Alhamdulillah. Hari ini saya mau cerita tentang pengalaman saya jalan-jalan di hari Jumat minggu kemarin. Jadi, seminggu yang lalu saya ada agenda keluyuran bareng dua temen, mereka adalah mbak Dimmy dan mbak Putri ke negara yang punya julukan negeri gajah putih, Thailand. Postingan ini saya bahas tentang cerita secara umum ya, detailnya akan saya ceritain per-hari atau per-part, insyaallah. 

Bermula dari rencana di akhir tahun 2017 yang hanya menjadi wacana dan wacana, akhirnya di bulan Agustus kemarin kami bertiga memutuskan untuk membeli tiket pesawat ke Bangkok. Saya langsung cus berkunjung ke situs sebuah maskapai yang mempunyai slogan, "Now Everyone Can Fly". Meskipun saat itu sedang tidak ada promo, kami tetap memperteguh pendirian untuk memesan tiket. Intinya saat itu, 'mbuh piye carane kudu budhal', titik. Sesudah pesan tiket, saya mau bayar nih ke ATM. Eh ternyata nggak bisa dong, ada keterangan di layar kalo pembayarannya gagal gitu. Akhirnya, saya tanya-tanya ke teman yang dulunya rekan sekantor, karena beliau sering pergi melancong ke luar negeri. Bertanyalah saya via DM Instagram, kenapa kok bisa begini begitu, susah banget mau bayar booking-an. Eh beliaunya malah mau bantu mesenin sekaligus bayarin duluan, jadi nanti saya tinggal transfer bayar ke masnya. Alhamdulillah baik sekali masnya, dan drama pun berakhir. Terima kasih mas Isa. Akhirnya, salah satu dari daftar Traveling Wishlist di tahun 2018 saya tercoret sudah. 

Baca juga: Traveling Wishlist in 2018

Skip skip skip, tibalah di hari keberangkatan. Oh iya, kami memesan penerbangan ke Thailand yang keberangkatannya dari Bali supaya bisa dapet yang langsung tanpa transit. Tapi sama aja sih, ujung-ujungnya saya dan mbak Dimmy harus pesen tiket dari Lombok-Bali dan Bali-Lombok. Jadi, pada hari Kamis sore tanggal 25 Oktober kami berdua dari Lombok berangkat ke Bali. Tanggal 26 Oktober pukul 01.35 dini hari, kami berangkat dari Bali ke Bangkok, Thailand. Hari Senin pagi, tanggal 29 Oktober pukul 06.00 dari Bangkok kami kembali ke Bali, terakhir di sore harinya pukul 16.50 kami pulang ke Lombok. Begitulah, tidak bisa dikatakan simpel dan murah sih. Tapi, kami menikmatinya, ahayy. Oh iya, teman saya mbak Putri dia nungguin di Bali, karena udah pindah dong kantornya sekarang. Dulu kami sama-sama di Lombok, sekarang markas kantornya pindah ke Bali. Uhuhu senangnyaaa, selangkah ke Barat. 

Senin, 26 Oktober dini hari sambil ngantuk-ngantuk kami menanti panggilan boarding ke Bangkok di bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Di sinilah, ada beberapa drama dimulai. Kudu ngakak dan sebel juga sih kalo diinget. Alhamdulillah, empat jam kemudian kami sudah mendarat cantik di bandara Internasional Don Mueang, Bangkok. Yuhuuu, perjalanan panjang pun dimulai! Langkah pertama kami mengarah pada tujuan yang telah saya bikin di itinerary. Kalau pengen tau boleh cek di sini

Baca juga: Itinerary Thailand 3 Hari 2 Malam (Rencana)

Sawadee kha! 
Siap Menjelajah!
Yap, hari pertama kami langsung pergi ke sebuah daerah bernama Cha-Am, di kabupaten Hua Hin. Eh entahlah Hua Hin itu kabupaten apa bukan ya? Jaraknya lumayan jauh dari Bangkok, 160-an kilometer gitu. Kami menempuh perjalanan selama 2,5 jam untuk pergi ke sana. Alhamdulillah tidak ada kendala di hari pertama, meskipun kami agak puyeng karena kebanyakan barang. Iya dari pertama landing, kami belum sempet mampir ke penginapan. Jadinya ya kemana-mana bawa bontotan backpack gede, demi efisiensi waktu. 

Kemudian, di hari kedua kami melakukan perjalanan jauh lagi nih. Tujuan di hari kedua yaitu ke Pattaya. Kemarin habis ke arah Timur, sekarang ke arah Barat ujung bawah. Kenapa milih ke Pattaya? Ya nggak apa-apa sih, pengen aja gitu. Soalnya kami menganggap bahwa Pattaya itu sebuah daerah destinasi liburan yang cukup terkenal gitu kan. Karena kita udah ke Thailand, jadi kenapa nggak sekalian ke Pattaya aja? Emang sih jaraknya juga jauh, sekitar 150an kilometer. Kami harus menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai di Pattaya. Daaan, di sinilah drama kedua dimulai. Kalo diinget jadi ngakak liat kelakuan sendiri dan sedikit merasa berdosa. Pokoknya, Pattaya ini adalah tujuan yang penuh dengan drama. Ahaha.


Naik 'Songthaew'
Terakhir, di hari ketiga kami memutuskan untuk berkelana di Bangkok aja untuk menyusuri pusat perbelanjaan dan berkunjung ke landmark-nya. Di sinilah datang drama ketiga buat kami, tapi nggak terlalu parah sih. Masalahnya cuma di bagasi. Kami berangkat cuma bawa satu tas besar dan satu-dua tas kecil, eh baliknya sudah beranak pinak dong. Apalagi di Bangkok harga-harga barangnya nggak jauh beda sama Indonesia, bahkan bisa lebih murah. Dan lagi, godaan terbesar wanita adalah belanja, lengkap sudah, ahaha. 


Bagaimana Nasib Mereka? 
Alhamdulillah, semuanya sudah berhasil teratasi dengan rapi dan kami berhasil mendarat dengan selamat di tanah air meskipun disambut dengan berita duka yaitu jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. Yaa Allah Lion Air, maskapai favorit kami sebagai perantau yang sering pulang. Semoga semua korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, keluarga yang ditinggalkan diberi keikhlasan, dan kita semua senantiasa diberikan keselamatan dimanapun ya. 

Kalau dari segi presentase, kira-kira nilai dari trip kami 95 lah. Nilainya dibagus-bagusin sendiri, ahaha. Itu karena sekitar 90% dari itinerary yang kami susun sudah berhasil dituju. Meskipun awalnya banyak yang meragukan kami karena hanya pergi bertiga, cewek-cewek pula. Kami sangat-sangat bersyukur karena diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati keindahan yang telah diciptakanNya di belahan bumi yang lain. Selain itu, bersyukur pula karena masih diberi keselamatan dan kesehatan dari mulai berangkat sampai kembali lagi ke Indonesia tercinta. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. 

Baiklah, sekian cerita secara umum tentang backpacker manja kami ke Thailand seminggu yang lalu. Cerita selengkapnya dari mulai hari pertama sampai ketiga beserta aksesorisnya akan saya update di hari mendatang ya, insyaaallah. Sampai jumpa di cerita selanjutnya! 



Siapa sih yang nggak suka Udon? Sudah lama sekali saya tidak makan mie Jepang ini, terakhir kali ya di tahun 2014. Sedihnya lagi, dia belum buka cabang di Lombok. Antara sedih dan agak lega sih. Agak leganya karena saya jadi nggak kebanyakan jajan ini, wkwk. Karena beberapa minggu kemarin saya ke Bali, sekalian aja deh melepas rindu bersama dengan brand udon ini karena letaknya tidak jauh dari rumah Kakak saya, hanya sekitar 3 km.

Saya pergi ke Marugame Udon bersama dengan Ibu pada pukul 10.30, ditepatin sama waktu makan siang. Saking lapernya, saya sampek salah parkir kendaraan di tempat parkir pegawai, yaa Allah bisa-bisanya. Resto ini buka pukul 10.00, saat saya ke sana masih kelihatan sepi karena baru buka. Tempatnya lumayan luas, adem, saat itu masih terlihat 3-4 meja saja yang digunakan pengunjung, sisanya kosong. 

Sampai di depan meja pemesanan, saya langsung milih menu udon. Awalnya agak bingung, saya ingin pesan Beef Curry Udon lagi, tapi juga pengen nyoba yang lain. Berdasarkan referensi yang saya dapatkan, ada satu menu yang most wanted, yaitu Niku Udon, akhirnya saya pilih itu. Kalau untuk Ibu, saya pesankan Beef Curry Udon saja yang sudah nyata enak dan cucok di lidah saya, Ibu juga belum pernah makan yang menu itu. Kemudian untuk gorengannya, saya milih "Nori Tempura" yang kayak Tao Kae Noi ditepungin gitu dan Ebi Tempura, alias udang tepung yang gede. Minumnya saya milih "Ice Lemon Tea" dan Ocha hangat untuk Ibu. Untuk milik Ibu, kami hanya dikasih tea bag dan air panasnya ngisi sendiri di sebelah kiri. Untuk milik saya, hanya diberi gelas kosong yang bisa diisi di bagian depan. Keduanya free refill, alias bisa langsung isi sendiri kalo yang di gelas udah abis, sepuasnya.


Aneka Gorengan
Sembari menunggu, kami berfoto ria dulu, hehe. Kemudian mulai nyemilin gorengan, Nori Tempura. Emang bener, rasanya persis kayak Tao Kae Noi yang lembaran besar terus ditepungin. Enak sih krispi gitu, apalagi kalo ditaburi bubuk cabe di atasnya. Kemudian, saya mengambil berbagai macam tambahan bumbu yang disediakan di tengah ruangan, seperti irisan cabe, irisan daun bawang, dll. Lima belas menit kemudian, mbak-mbak pramusaji datang mengantarkan pesanan kami. Tadaaa, ini dia penampilannya...


MasyaAllah!

Itadakimasu!
Pesanan saya, Niku Udon, kuahnya bening disertai dengan suiran daging sapi sukiyaki yang melimpah di atasnya. Kuah beningnya ini namanya sup kake dashi. Apa itu sup Kakedashi? Kalo dari webnya sih begini, Sup Kakedashi adalah "sup resep asli dari Jepang, terbuat dari ikan dan rumput laut dengan shoyu". Rasanya gimana? Enak kok, gurih, asin, manis, emang berasa aroma ikan-ikan gitu.

Pesanan Ibu, Beef Curry Udon, kuahnya kental dari kari khas Jepang gitu disertai daging sukiyaki juga di atasnya. Rasanya gimana? Ya jelas enaaaak dong, masyaAllah gurih banget. Ini salah satu varian yang jadi favorit saya.  Daging sapi bumbu sukiyaki nya pun melimpah dan 'gamoh' alias empuuuk banget.


My Mom
Kalau minuman Ocha nya ya seperti rasa teh hijau pada umumnya lah, sepet gitu apalagi ga ada gula. Saya sendiri sih bukan penggemar berat teh hijau, jadi nggak suka hehe. Kalau lemon tea rasanya ya seger, sepertinya mereka pake brand Nestea deh. Oiya, karena kekenyangan akhirnya Ebi Tempura nya saya bawa pulang ke rumah, rasanya ya jelas enaaak lah. Kayak udang goreng biasa gitu, cuma tepungnya yang bikin beda.

(1) Niku Udon
1. Niku Udon
Rp 50.909 (exclude tax 10%)

(2) Beef Curry Udon
2. Beef Curry Udon
Rp 50.909 (exclude tax 10%)

(3) Ebi Tempura & (4) Nori Tempura

3. Ebi Tempura
Rp 14.545 (exclude tax 10%) 
4. Nori Tempura
Rp 10.909 (exclude tax 10%) 

5. Hot Ocha
Rp 11.818 (exclude tax 10%)
6. Lemon Tea
Rp 11.818 (exclude tax 10%)

Lokasi:
Marugame Udon
Jl. Teuku Umar No. 141 Simpang 6 Denpasar.

Baiklah, sepertinya segitu dulu curhatan pendek saya tentang Makan Mantap di Marugame Udon ini. Kapan-kapan kalau ada kesempatan insyaallah saya balik makan di sini lagi untuk mencoba varian yang lain, ehehe. Sampai jumpa di food review berikutnya, insyaallah :)



Mimpi saya sangatlah sederhana. Meskipun saat ini saya bekerja, tapi saya tidak ingin mengabdikan waktu hidup saya untuk pekerjaan ini selamanya. Terkadang, muncul dalam pikiran bagaimana jika suatu saat menjadi ibu rumah tangga saja? Mendampingi suami dan mendidik anak-anak, mencari ketenangan di dunia dan surga di akhirat. Padahal dahulu saya sangat amat anti jika harus disuruh resign dan menjadi IRT saja. Tapi lama-kelamaan saya mikir juga, ternyata untuk menjadi produktif dan mandiri secara finansial kan tidak harus menjadi pegawai seperti yang sekarang.

Jika saya terus bekerja sebagai pegawai di suatu perusahaan, tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat nanti harus terpisah dengan suami karena tempat dinas yang berbeda. Saya ingin menjadi seorang istri yang selalu 'ngintil' kemanapun suami pergi tetapi tetap mandiri dan berwawasan luas. Kalau saya jadi Ibu yang di rumah kan bisa lebih intens jadi gurunya anak-anak dan mendampingi suami.

Semoga suatu saat nanti dia ditempatkan di kampung halaman kami. Kemudian saya resign dan memutuskan untuk menjadi penulis, itu adalah cita-cita terbesar saya. Meskipun harus menjadi Ibu Rumah Tangga, tetap harus kreatif dan produktif dong. Dengan menjadi penulis, kita bisa menebarkan ilmu. Seperti kalian tau, salah satu hal yang termasuk amal jariyah adalah 'ilmu yang bermanfaat'. Atau jadi pengusaha gamis juga sepertinya menarik.

Itulah kenapa, sampai saat ini saya sangat kagum dengan Bunda Asma Nadia dan Ummu Alila, istri Ust. Felix Siauw. Menurut kacamata saya, meskipun beliau berdua bukan pegawai kantoran, tapi mereka sangat amat produktif. Bunda Asma dengan ribuan buku dan tas produksinya. Ummu Alila dengan usaha clothing syari nya dari mulai khimar, gamis, hingga gamis renang yang memudahkan kami para  muslimah untuk berpakaian sesuai syariat di berbagai aktivitas. Bahkan Ummu Alila juga sudah mulai menulis buku dan caption di Instagram-nya juga sangat bermanfaat dan menginspirasi. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau berdua, aamiin. Dan masih banyak lagi akhwat di luar sana yang menginspirasi yang tidak bisa saya sebutkan di sini.

Jika memang semua keinginan ini memudahkan untuk mendapatkan ridho menuju jannahNya, semoga suatu saat Allah mengijabahi semua cita-cita ini. Aamiin yaa Rabbal alamiin. Bagaimanapun itu, hidup adalah sebuah pilihan. Dan pilihan yang 'terbaik' menurut seseorang tidak akan sama dengan orang yang lain. Apapun pilihan kita, saudara kita, dan kawan kita nanti, itu adalah pilihan terbaik bagi mereka. Kita tidak berhak berkomentar buruk dan tidak setuju jika pilihan hidupnya tidak sama dengan pilihan hidup kita, ya :)

Anyway saya terinspirasi nulis ini saat lagi minum Ichitan Thai Milk Tea di dalam kamar. Dan di situ tertulis bahwa produksinya di Mojokerto, my hometown. Langsung jadi baper deh :')

Mataram, 17 Maret 2018
11.08


Saya adalah penggemar berat kuliner. Awal mula saya tau merek Pizza ini, yaitu ketika saya duduk di bangku SD. Saya suka sekali baca buku atau majalah. Nah, waktu itu ada kiriman dari pembaca yang sedang menceritakan pengalamannya mentraktir teman-temannya makan di Domino's Pizza Kemang. Kala itu di jaman old saat masih pakai seragam merah putih, jangankan makan Domino's Pizza, makan Pizza Hut aja bisa diitung pakai jari. Apalagi saat itu di daerah tempat tinggal saya belum ada fastfood macam Pizza Hut yang buka cabang.  Jadi kalau mau makan Pizza harus pergi ke Surabaya dulu.

Hingga pada suatu ketika, muncul kebiasaan saya kalo lagi ada di kota besar, yaitu ngeliatin aplikasi ojek online. Terus lanjut ngecekin kuliner di menu food delivery. Eh ternyata di dekat rumah Kakak ada salah satu merek Pizza yang belum pernah cobain, yaitu Domino's Pizza. Sering sekali saya main ke rumah Kakak di Denpasar, tapi sekalipun belum sempat juga untuk memesan Domino's Pizza.

Minggu kemarin saya liburan lagi ke rumah Kakak. Karena tidak ada agenda yang mengikat, akhirnya saya memustuskan untuk pergi kulineran bersama Ibu di hari Ahad, sebelum balik kembali ke Lombok. Siang hari pukul 12.00 kami pergi mengendarai sepeda motor karena jarak Domino's Pizza tidak jauh dari rumah Kakak, hanya sekitar 3 kilometer saja.

Sampai di sana, ternyata tempatnya kecil yang terdiri dari dua lantai. Pada lantai satu hanya tersedia beberapa tempat duduk, sekitar 2 meja makan dan ada satu bangku panjang yang digunakan pembeli take away untuk menunggu pesanannya. Kalau untuk pembeli dine-in mungkin mereka makan di lantai 2. Pegawainya pun sedikit, satu orang di kasir, dua orang di dapur. Kalau tidak salah ingat dan tidak salah lihat, totalnya hanya ada tiga pegawai saja. Mungkin ada juga beberapa pegawai untuk delivery, karena di parkiran juga tersedia motor untuk melayani pesan antar.

Karena kasirnya hanya satu, jadi sebelum memesan saya harus sabar menunggu dia mondar-mandir mengambil kotak pizza yang sudah matang untuk diserahkan kepada pembeli take away. Beberapa kali si mbak kasir bilang, "Tunggu sebentar ya mbak,". Tapi saya tidak masalah sih, toh emang dia banyak kerjaan. Setelah lima menit menunggu, dia menyapa saya. Barulah saya mulai untuk memesan pizza yang saya inginkan. Kebetulan saat itu sedang ada promo buy 2 medium Pizza Rp 100.000 (diluar pajak 10%), padahal untuk dua buah pizza harga aslinya sekitar Rp 160.000. Jadi saya ambil promo itu dan coba memesan Meat and Meat dan American Classic Cheeseburger Pizza. Si mbak juga menanyakan, apakah saya ingin roti tebal atau tipis, saya memilih tebal. 

Domino's Pizza
Setelah menu sudah terpesan, saya mencari mencari tempat duduk untuk menunggu. Kira-kira 10 menit kemudian, pizza yang saya pesan sudah matang dan nama saya dipanggil. Mbak kasir mencocokkan menu pesanan saya yang terletak di nota dengan kotak pizza yang ada, semuanya pas. Kemudian saya meminta plastik kresek untuk membawa pizza tersebut dan kembali pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, saya mulai mencobanya. Pizza yang saya pesan ini tidak ada pinggirannya, toppingnya pun cukup simpel dan tidak berlimpah. Bisa juga ditambahkan pinggiran jika mau. Pizza pertama yang saya coba adalah Meat & Meat, toppingnya terdiri dari pepperoni, sosis, dan saus tomat. Terkstur rotinya lumayan, tapi tidak selembut PH. Roti gandumnya terasa sekali dan banyak butiran-butiran warna oranye, saya kurang tau apa itu. Mungkin seperti tepung panir gitu kali ya? Rasanya lumayan lah. Untuk ukuran medium di sini lebih kecil daripada pizza sebelah, diameternya sekitar 15 cm.

Pizza kedua yang saya pesan, yaitu American Classic Cheeseburger. Ini saya bawa balik ke Lombok, untuk makan malam dan masih sangat enak hingga keesokan harinya. Toppingnya terdiri dari daging cincang, saus tomat, dan saos keju. Rasanya kurang lebih sama seperti varian Meat & Meat. Kejunya tidak terlalu terasa karena tidak melimpah, hanya disiram di atasnya seperti saos gitu.

American Classic Cheeseburger Pizza, yang Meat & Meat Tidak Sempat Saya Foto
Jadi kesimpulan dari nyobain Domino's Pizza ini adalah, rotinya enak ngenyangin walaupun nggak selembut PH. Rasanya juga lumayan enak, toppingnya beraneka ragam. Harganya lebih murah dari PH. Mau beli lagi? Insyaallah kalau ada kesempatan pasti beli lagi untuk nyobain rasa yang lain. Selain itu stand Domino's Pizza juga terbatas di Indonesia, setau saya hanya ada di Jakarta dan Bali. Jadi, masih worth lah bagi saya untuk beli kesitu lagi.

Location:
Domino's Pizza
Jl. Teuku Umar Barat No.168B, Pemecutan Klod, Denpasar

Sampai jumpa di food review selanjutnya ;)

Assalamu'alaikum!

Hallo, sudah lama sekali ternyata saya tidak menuliskan opini saya di sini. Sebenarnya ada banyak sekali ide-ide atau sesuatu yang ingin dituliskan. Tetapi semua itu tiba-tiba sirna, karena penyakit "menunda". Baiklah, langsung saja ke topik bahasan.

Kali ini saya mau share tentang rencana liburan mendadak. Ceritanya, udah dari awal tahun ini saya bersama dua teman yang lain merencanakan untuk liburan ke luar negeri. Akhirnya, kami pilihlah Thailand sebagai destinasi liburan. Mengapa Thailand? Karena kami ingin mencari negara yang bahasanya berbeda dengan Indonesia. Selain itu, Thailand juga terkenal dengan kuliner dan barang-barangnya yang murah tapi berkualitas.

Lambat laun hal tersebut hanya menjadi sebuah wacana dan hilang kabarnya ditelan waktu. Hingga akhirnya, pada bulan September kemarin salah satu teman saya berkata bahwa semua wacana itu harus diakhiri. Baiklah, saya akhirnya memesankan tiga buah tiket untuk ke Bangkok. Nekat, haha. Padahal harga tiketnya nggak bisa dibilang murah banget sih, tapi daripada nggak jadi-jadi ya beli aja lah ya.

Hampir semua urusan tentang pemesanan tiket, hotel, hingga itinerary dipasrahkan ke saya. Saya sih oke-oke aja, soalnya seneng aja kalo disuruh nyusun jadwal plesiran. Oiya, untuk pergi ke Bangkok, kami memutuskan untuk berangkat dari Bali karena bisa ditempuh direct. Sedangkan untuk penginapan, saya memilih untuk tinggal di daerah "Khaosan Road". Karena infonya, daerah ini terkenal sebagai daerah backpacker, selain itu juga banyak makanan dan barang-barang murah di sini. Ya mungkin semacam Jalan Malioboro gitu ya kalo di Jogja. 

Berikut adalah contoh itinerary yang telah saya susun:



Karena ini adalah pengalaman saya yang pertama untuk ke luar negeri, jadi semua informasi yang saya kumpulkan untuk bisa menyusun itinerary tersebut adalah hasil dari blogwalking ke halaman blogger yang lain. Tapi ada satu hal yang masih menjadi PR saya, yaitu membuat rute tersebut jika ditempuh menggunakan bus atau BTS (Skytrain Bangkok). Untuk total pengeluarannya insyaallah akan saya rekap di akhir nanti ya, kalau sudah selesai traveling.

Bagaimana dengan jadwalnya, padat sekali bukan? Ahahaha, saking mau maksimalnya jadi mepet-mepet gitu waktunya. Tulisan ini juga akan saya gunakan sebagai saksi, apakah itinerary tersebut berhasil saya laksanakan dengan sebaik-baiknya, dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya di Thailand nanti. Bismillah, semoga kami semua diberi kesehatan dan kekuatan untuk traveling yang insyaallah akan kami laksanakan tanggal 25 Oktober mendatang. Aamiin yaa Rabbal alamin...



Tidak terasa dua tahun sudah saya mendapatkan amanah untuk bekerja. Setiap hari semenjak sudah bekerja, rasanya waktu bergulir dengan cepat sekali. Dari pagi ke malam, dari terang hingga ke petang. Dari memulai kegiatan di jam 5 pagi, hingga pulang kantor jam 5 sore. Bahkan terkadang bisa lebih dari jam 5 sore meskipun tidak lembur. Tiap hari rutinitasnya itu-itu aja. Bangun pagi, berangkat kantor, pulang, istirahat malam, pagi lagi.

Ceritanya, beberapa hari yang lalu saya nggak bisa tidur sampai jam 12 malam. Akhirnya buka-buka Google Maps dan kepikiran untuk liat 3D view tempat OJT dulu, kurang kerjaan banget sih emang ahaha. Pengen liat lagi, tempat-tempat yang dulu sering disamperin semasa OJT yang notabene berada di daerah agak mendalam.  Jadi, berikut ini adalah beberapa Tempat Kenangan Saat OJT di Talawi pada awal tahun 2016 silam.



Seharusnya tulisan ini saya post kemarin sih. Tapi baru sempet nulis pas tanggal 2 dini hari, jadinya saya post sekarang nggak apa-apa lah ya. 

Alhamdulillah, nggak kerasa udah masuk bulan Juni aja ya. Sebelumnya, pada tanggal 1 Juni ini saya ingin mengucapkan, Selamat Hari Lahir Pancasila yang ke-73. Semoga Indonesia semakin jaya selalu, aamiin. Alhamdulillah pagi tadi masih diberikan Allah kesempatan untuk mengikuti upacara dengan keadaan yang sehat wal afiyat. Bulan Ramadhan tak berarti kita harus malas-malasan dong, harus tetep semangat juga buat ikut upacara.

Selain Hari Lahir Pancasila, tanggal 1 Juni adalah tanggal yang istimewa dan akan selalu saya kenang seumur hidup. Iya, karena itu adalah tanggal pengangkatan saya sebagai pegawai baru. Pada tanggal 1 Juni 2016, tepatnya dua tahun yang lalu, pengabdian saya bermula setelah sebelumnya harus melewati masa Prajabatan selama enam bulan. Rasanya bagaimana? Jangan ditanya, pasti lega dan bangga sekali atas pencapaian level baru dalam kehidupan saat itu. Kalau sudah diangkat jadi pegawai, berarti saya sudah resmi bekerja. Sudah resmi bekerja, artinya saya harus bertanggung jawab atas kehidupan saya sendiri, dalam artian sudah harus mandiri secara finansial. Dan juga ada rasa ketakutan tersendiri bila tidak bisa melaksanakan amanah baru ini, karena kelak Allah pasti akan meminta pertanggungjawabannya. 

Masih terkenang dalam ingatan bagaimana dagdigdugnya saya saat pembagian tempat kerja bagian ke-dua setelah dikumpulkan di kantor wilayah. Alhamdulillah, bisa ditempatkan di kota Mataram padahal sebelum-sebelumnya saya udah mikir yang aneh-aneh aja. Kemudian mulai masuk kantor baru, kenalan dengan orang-orang baru dengan gaya yang masih malu-malu. 

Banyak hal yang saya dapatkan setelah dua tahun bekerja yang Alhamdulillah sampai sekarang masih di tempat yang sama. Mulai dari ditunjuk ikut jadi tim A, B, C, dll hingga mengikuti banyak pelatihan. Karena sudah dua tahun bekerja, pasti saya juga sudah kenal dengan hampir semua rekan-rekan kerja di kantor, khususnya di ruangan saya. Rekan kerja di ruangan itu rasanya sudah seperti keluarga sendiri. Kami sering bikin dan makan rujak buah bareng di ruangan, kalau nggak gitu pesen gorengan di dapur buat dimakan bareng di ruangan. Pokoknya temen-temen ruangan saya itu kompak deh, mulai dari kerja sampai makan-makan kompak terus, ahaha. Intinya dibandingkan dengan tahun lalu, di tahun kedua ini saya banyak mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru, dan juga kisah baru tentunya. Oh iya satu lagi, sekarang juga keadaannya baru, karena di tahun kedua ini Ibu ikut saya untuk tinggal di Lombok. 

Lagi-lagi, kok nggak kerasa udah dua tahun aja ya? Sudah dapat cuti untuk yang kedua kalinya nih, ahaha. Kadang juga saya mikir, kayaknya kontribusi saya masih kurang deh untuk perusahaan tercinta ini. Semoga di tahun selanjutnya, saya bisa menjadi pegawai yang lebih baik, lebih banyak kontribusinya, dan lebih bersungguh-sungguh dalam bekerja karena itu adalah salah satu bentuk ibadah. Dan untuk ibadah, harus kita lakukan dengan sebaik-baiknya untuk Allah. 

Sekian kisah saya untuk hari ini, sampai berjumpa kembali :)



Ceritanya, tadi sore (24/5) saya habis dapet tugas buat jadi MC di acara buka bersama yang diadain sama kantor. Awal saya tau kalo ditunjuk jadi MC ya jelas saya ngambek lah. Udah tau mental kalo ngomong depan orang banyak lemah gini, eh dipilih jadi MC. Tapi saya nggak punya pilihan lain selain dilakoni. Ya sudahlah, akhirnya saya jalani aja.


Ada perasaan seneng dan sedih kalau di feed sosial media ngeliat temen sebaya lagi posting foto anaknya yang masih kecil. Kalau senengnya sih udah wajar lah ya, memang pada dasarnya hampir semua manusia suka liat anak kecil, apalagi yang masih bayi gitu kan imut lucu. Tapi loh kok ada sedihnya juga? Ya, mungkin bisa ditebak lah. Jawabannya, karena saya pengen punya juga, ahaha. 

Kemudian saya mikir-mikir lagi, apa kamu sudah siap kalau punya anak? Apa kamu sudah siap mendidik? Apa kamu sudah siap dengan ilmu-ilmu yang akan kamu terapkan dan kamu berikan ke mereka? Ya meskipun semua kesiapan itu akan hadir secara naluriah bersamaan dengan hadirnya anak, tapi menurut saya alangkah baiknya jika diri ini juga ikut mempersiapkan ilmu dan mental biar lebih sempurna. Karena anak itu amanah kan ya, tanggungannya berat kalau tidak mampu mendidik dengan baik. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti akan dimintai pertanggungjawaban. 

Kalau ingin punya anak yang pinter, sholeh, hafidz/hafidzah, ya saya sebagai calon ibunya ini juga harus belajar biar banyak ilmu agar jadi Ibu yang sholehah dan juga harus mulai menghafalkan Al-Qur'an sedikit demi sedikit. Karena anak itu kan terlahir sebagai kertas putih, tinggal kita sebagai orangtua mau nulis apa di situ. Dan kebiasaan orangtua itu juga akan berpengaruh dengan tulisan pada lembar putih tersebut. Anak kecil kan cenderung mencontoh orangtuanya. Kalau misal saya (naudzubillah) males-malesan aja, bisa jadi nanti anaknya ikut nyontoh males juga. Jadi harus dipersiapkan ilmu dengan sebaik-sebaiknya. 

Kalau punya ponakan masih kecil di rumah, bisa dipraktekkan untuk kita belajar parenting. Contohnya saya, hehe. Belajar mandiin ponakan yang masih bayi, ngajakin dia jalan-jalan, nyuapin saat makan, dan ngajarin ponakan yang udah besar kalau dia ada PR. Mandiin anak bayi sih nggak terlalu berat ya, tapi ngajarin saat ngerjakan PR ini yang agak susah bagi saya. Kalau dianya agak males-malesan, terkadang saya masih suka nggak sabaran, rasanya pengen nangis aja kenapa kok dia nggak nurut. Jadi, kayaknya saya harus belajar untuk lebih sabar nih, haha 😂

Tidak ada yg tau kamu sudah siap untuk punya anak (tentu saja menikah dulu ya) atau belum, kecuali diri kamu sendiri dan pastinya Allah. Kamu yang tau, kapan kamu siap mental untuk mengasuh dan mendidik anak. Kamu juga yang tau, kapan kamu siap untuk menikah, berumah tangga, dan memiliki keluarga. Kamu harus bisa membedakan, mana emosi dan mana yang benar-benar niat. Jangan hanya karena temen sepantaran posting foto anaknya, trus kamu juga jadi pengen punya gitu. Bukan. 

Menikah dan punya anak itu bukan lomba. Jadi, kamu nggak usah kesulut emosi ikutan pengen juga, padahal kamu sendiri belum siap ilmu dan mental. Kalau belum siap ya siapkan apapun yang menurut kamu perlu, contohnya seperti apa yang ada di paragraf ke-dua. Banyak-banyak belajar ilmu parenting. Meskipun kadang prakteknya nggak sesuai teori, tapi setidaknya kita punya wawasan bagaimana cara mengasuh dan mengasihi mereka. Karena mereka adalah calon generasi Rabbani, umat yang akan dibanggakan oleh Rasulullah di akhirat nanti. Jadi, persiapkan semua dengan sebaik-baiknya. Dan yang paling utama, niatkan semua sebagai ibadah. 

Setelah bertanya pada diri sendiri, ternyata saat ini saya masih belum siap. Masih banyak sekali PR yang harus saya tuntaskan sebelum pantas menjadi Ibu, haha. Semangat mempersiapkan diri untuk mencetak generasi terbaik!



Hampir dua bulan yang lalu tepatnya pada hari Sabtu tanggal 18 November 2017, saya mengantar Ibu saya ke Bali untuk bertemu dengan cucu-cucunya. Rencananya, beliau akan menginap di rumah Kakak saya selama sebulan. 


Malam hari menjelang tidur selalu menjadi waktu yang tepat untuk merenung. Melukiskan pemikiran ke dalam sebuah tulisan. Tulisan ini adalah suatu refleksi, renungan bagi diri sendiri yang terkadang masih lalai. 

Kali ini menjelang tidur, terlintas di pikiran saya tentang dunia.Terkadang, saya sendiri pun masih bertanya-tanya dalam hati. Untuk apa saya mencari ilmu bertahun-tahun? Untuk apa saya membuat suatu postingan di media sosial? Untuk apa saya jatuh bangun meraih cita-cita? Untuk apa saya capek-capek berwisata ke beberapa daerah? Untuk apa saya melakukan ini dan itu? Benar-benar untuk beribadah kah atau hanya untuk mengejar kesenangan dunia? Untuk apa sih sebenarnya saya bekerja jauh-jauh hingga ke luar pulau dan rela terpisah dengan keluarga? Untuk benar-benar mencari ridho Allah kah, atau hanya untuk memperkaya diri dan memuaskan nafsu akan harta? 

Dunia itu luas tapi kecil, fana tapi mempesona. Dunia itu sementara, tidak kekal. Mobil, motor, handphone, tanah, rumah, sebenarnya semua itu adalah sarana yang kita gunakan untuk beribadah. Beribadah untuk mengumpulkan bekal akhirat, mengejar pahala yang telah Allah janjikan di balik setiap kebaikan yang telah kita perbuat. Semua yang kita miliki di dunia ini, suatu saat pasti akan kita tinggalkan. 

Jika kita telah tiada, maka yang tersisa hanyalah tinggal kenangan di ingatan orang lain. 
"Oh iya, ini dulu mobilnya si Alm. A,"
"Dulu Alm. B kerja keras sekali ngumpulin uang untuk bisa beli ini,"
"Rumah ini dulu yang desain Alm. C sendiri, katanya biar tenang tinggal di rumah impian yang nyaman,"

Selepas itu, semua harta benda tersebut akan berpindah tangan ke ahli waris kita. Saat kita diantar menuju ke tempat peristirahatan terakhir, mereka tidak akan ikut dikubur bersama jasad kita. Mobil mewah yang kita miliki di dunia, tidak akan dapat kita rasakan nyamannya lagi saat dikendarai. Baju mewah dan bermerk, tidak akan kita gunakan lagi untuk menghangatkan tubuh kita di dalam dinginnya liang lahat. Uang yang kita tabung dahulu, tidak akan dapat menebus dosa yang telah kita lakukan. Semuanya tidak akan berarti lagi. Kecuali jika ahli waris kita menggunakan harta yang kita tinggalkan untuk menghasilkan amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah tiada. 

Apa yang akan kita bawa hingga di akhirat nanti? Semua pasti sudah tau jawabannya. Iya, satu-satunya harta yang kita miliki hingga di akhirat nanti adalah amal baik. Tapi, sudah cukupkah amal baik yang kita tabung di dunia ini untuk kita bawa jika sewaktu-waktu malaikat Izrail menjemput? Semua tidak akan pernah tahu sampai kapan kontraknya di dunia akan berakhir. Saya, kamu, kita semua tidak akan pernah tahu kapan waktu itu akan tiba. Mungkin jauh beberapa tahun ke depan, atau bisa jadi sedetik setelah ini. Semua tidak akan pernah mengerti. Maka jangan sia-siakan setiap waktu yang kita miliki hingga terbuang percuma. 

Setelah ini, tanyakan kembali pada diri masing-masing. Untuk apa tujuan hidupmu? Apa niatmu yang sesungguhnya dalam melakukan setiap sesuatu? Jadikanlah setiap detik waktu yang kita miliki ini untuk menghasilkan amalan sholeh. Niatkan segala sesuatu yang kita lakukan untuk beribadah. Jangan pernah terlintas sedikit pun dalam benak ini untuk berbuat keburukan atau bermaksiat. Rugi deh, bener-bener rugi! Jangan niatkan apa yang kita kerjakan ini hanya untuk dunia. Niatkan semuanya semata-mata hanya karena Allah. Memang yang berat itu istiqomah dalam ketaqwaan, karena dia berhadiah surga.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah yang selalu istiqomah di dalam ketaqwaan. Semoga kelak kita dapat berkumpul kembali di jannahNya yang terbaik. Aamiin yaa Rabbal alamiin. 

Semangat, istiqomah, niat karena Allah! 😇