Married, a Simple Word Contains Big Things for a Big Influences in Whole Life

By 02:20:00




Di usia yang kata mereka masih belia ini, aku ingin menuliskan rencana hidupku. Satu hal yang saat ini masih terus kupikirkan, terngiang dalam benak adalah "menikah". Ya, mungkin bagi sebagian orang masih menganggap aneh, berdecak kemudian bergumam, “Masih juga umur 18 tahun, kok udah mikir nikah. Sekolahmu tuh urusin dulu, benerin”. Sebagian lagi mungkin ada yang tertawa.

Namun bagiku, menikah ini adalah bagian yang terpenting, yang bisa menggenapkan sebagian agamaku. Saat ini, aku tak mau bermain dan dekat-dekat dengan yang namanya merealisasikan “cinta”. Jika suatu saat Allah menganugerahkan rasa itu ada padaku, cukuplah kupendam saja dalam diri ini satu kata yang bernama cinta itu hingga saatnya tiba. Atau mungkin jika suatu saat laki-laki yang aku cintai sudah menemukan “tulang rusuknya” lebih dahulu, bagaimana? Hmmm... patah hati itu pasti ada, manusiawi kok. Tapi ya mau bagaimana lagi, tulang rusuknya itu kan sudah dituliskan Allah di Lauhil Mahfudz, dan ternyata yang dituliskan Allah itu bukan aku. Kalau sudah begini, bagaimana? Mau kecewa sama si laki-laki? Dia juga tidak tahu menahu tentang siapa jodohnya kelak. Ternyata oleh Allah dia dijodohkan dengan orang lain, maka kecewaku itu harap dihapus pelan-pelan saja. Mungkin yang dituliskan Allah untukku itu juga sedang menungguku. Toh ya aku dulunya pernah patah hati, juga pernah kecewa dan akhirnya kuat lagi. Yang paling parah paling Cuma nangis semalem, nyari hiburan dan kesibukkan, akhirnya ceria lagi, ketawa-ketawa lagi. Rasa sedih dan senang adalah fitrah kita sebagai manusia, karunia Allah. Jadi kalo lagi seneng ya nikmati aja, kalo lagi sedih jalani aja. Tidak selamanya sedih itu akan hinggap di diri ini, begitu juga dengan senang. Lagipula rasa cinta untuk dia lama-lama juga terkubur hidup-hidup dan diuraikan oleh bakteri yang bernama waktu.

Aku ingin nikah muda. Awalnya aku ingin menikah di usia 23 tahun. Tapi karena tidak ingin berlama-lama terus sendiri, “berpuasa” dan iri dengan kemesraan tulisan-tulisan di fanpage islami tentang percakapan sepasang suami istri yang hendak melaksanakan sholat tahajud, jadi aku memutuskan ingin menikah di usia sekitar 21 atau 22 tahun. Awalnya fine-fine saja, tapi setelah dipikir-pikir lagi, “Apa nggak terlalu muda ya?” Padahal aku ingin membahagiakan orangtuaku dulu, ingin memperhatikan dan mencurahkan semua kasih sayangku kepada beliau berdua. Memang bisa sih membahagiakan kedua orangtua saat kita sudah menikah nanti. Tapi menurutku, itu tidak bisa seleluasa dan sefleksibel saat aku masih single dan belum ada ikatan dengan siapapun. Aku masih bisa manja-manja ke ibu, ke ayah. Nah kalo udah nikah, kan ya malu mau manja-manja sama ibu atau ayah. Kan sudah ada suaminya. Hehe.

Aku masih ingin memberikan sesuatu yang berharga kepada beliau berdua dari hasil keringatku sendiri. Yah walaupun orangtua tidak pernah mengharapkan balasan harta dari anaknya, tapi aku ingin sekali menaikhajikan kedua orangtuaku, mengajak beliau berdua ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi, banyak deh pokoknya. Nah kalo sudah menikah, walaupun semua itu dari hasil keringatku, uangku sendiri, kan ya setidaknya harus bilang ke suami dulu. Karena saat menikah aku kan sudah menjadi tanggung jawab suamiku, bukan orangtuaku lagi.

Satu hal yang lumayan besar lagi untuk jadi pertimbangan, aku ingi melanjutkan studiku dari D3 ke S1 di ITS. Loh, emangnya kalo udah nikah apa nggak bisa ya? Ya bisa sih, tapi berdasarkan pengalaman, kuliah di ITS itu sangat amat butuh keseriusan dan butuh perhatian khusus. Apalagi nanti aku sambil kerja di PLN, tidak tau mau ditempatkan dimana. Tapi kalo aku ditempatkan di sekitar wilayah Surabaya, aku mau lanjutin kuliah S1 di ITS. Aku mau ambil yang malam hari. Pagi sampai sorenya buat kerja. Nah, kalo udah kayak gitu kan nggak ada waktu lagi buat sang suami kelak. Apalagi kalo nanti ada anak, kan kasihan. Ada sih ada, tapi kan intensitasnya sangat sedikit. Sekitar 9 dari 24 jam lah, tapi yang 6 jam buat tidur. Sedikit kan?

Berdasarkan semua pertimbangan-pertimbangan di atas, aku jadi meninggikan patokan usiaku untuk menuju ke pelaminan menjadi 23 tahun. Atau minimal 22 tahun lah. Tapi ini hanyalah naluriku sebagai manusia yang bisa berencana. Apapun yang terjadi nanti, aku pasrahkan sama kehendak yang telah Allah tuliskan untukku. Wallahu ‘alam bisshowab.   

Married, a Simple Word contain Big Things for a Big Influence in whole life.

You Might Also Like

0 comments