Mengintip Kearifan Lokal Pulau Lombok di Desa Sade

By 12:23:00


Dibalik fenomenalnya PILKADA DKI Jakarta putaran pertama beberapa bulan kemarin, ada beberapa pihak yang berbahagia. Salah satunya adalah saya. Saya bahagia karena dari Rabu tanggal 13 Februari kemarin telah ditetapkan sebagai libur nasional oleh Pak Jokowi. Bahagia banget, nggak ikutan milih tapi ikutan libur.

Hal yang tepat bagi saya dan kawan-kawan untuk mengisi waktu libur adalah dengan jalan-jalan. Nggak usah jauh-jauh, cukup di deket sini aja. Toh saya kan udah ada di Lombok, pulau dimana banyak dijadikan tempat wisata dan hanimun bagi sebagian orang karena keindahan alamnya, ehehe *sombong*.

Tujuan pertama kami adalah desa Sade. Sade ini sebenernya nama dusun sedangkan nama desanya itu Rembitan. Lokasinya ada di kecamatan Pujut, kabupaten Lombok Tengah, NTB. Untuk bisa ke sini, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Itupun karena awalnya kami mampir ke minimarket, kalau nggak pakai mampir ke minimarket dulu mungkin bisa jadi hanya 1 jam.

Desa Sade (Tampak Depan)
Dusun Sade ini ditinggali oleh suku Sasak, yakni suku asli di pulau Lombok. Meskipun berada di tengah-tengah daerah yang pembangunannya mulai berkembang dan jalan raya yang lumayan ramai, dusun Sade ini masih memegang teguh tradisinya.

Begitu masuk gerbang, kami disambut dengan pemandangan beberapa bapak-bapak yang sedang cangkruk di sebuah berugak yang cukup luas. Mereka memakai baju adat Sasak dengan alat musik plus gendang Sasak berukuran gede yang melebihi badan pemainnya, namanya 'Gendang Baleq'. Eitsss, tapi pas kami masuk mereka nggak sampai mainkan alat musiknya loh, cuma cangkruk dan ngobrol-ngobrol aja. Kecuali kalau ada rombongan tur atau apa gitu yang udah pesen ke mereka untuk disambut, baru deh mereka mainkan alat musiknya. Iramanya hampir sama seperti saat saya mendengar pawai untuk mengawal pengantin di jalan atau di sini istilahnya "Nyongkolan".

Semakin masuk ke dalam dusun, semakin terasa suasana Tempoe Doeloe-nya. Jalanannya masih tanah, tidak ada yang diaspal maupun dipaving. Dinding rumah mereka terbuat dari anyaman bambu, lantainya beralaskan tanah, atap dari daun rumbia, dan pilar rumahnya dari bambu. Karena tidak pakai pemandu, jadi kami hanya bisa bertanya pada masyarakat sekitar jika ingin mendapatkan informasi lebih banyak.

Banyak sekali masyarakat di dalam dusun yang bekerja sebagai penenun kain dengan motif Sasak. Harganya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 50.000 hingga ratusan ribu rupiah, tergantung kerumitan polanya. Ada juga yang berjualan berbagai pernak-pernik dan aksesoris khas Lombok, seperti gelang, kalung, dan gantungan kunci. Tapi saat itu saya nggak beli apa-sih, kan tujuannya cuma lihat-lihat aja.

Menenun
Feeling The Texture
Ayunan untuk Bayi
Ada satu kebiasaan yang unik dari masyarakat dusun Sade ini. Mereka biasa mengepel lantai rumah mereka dengan kotoran kerbau. Usut punya usut, ternyata menurut pendapat mereka kotoran kerbau ini bisa membersihkan lantai, menghilangkan debu, dan mengusir serangga yang ada di lantai.

Kami tidak dikenakan tarif untuk masuk ke ini, bahkan parkir pun tidak dipungut biaya. Mungkin saat itu, tukang parkirnya kebetulan sedang tidak ada kali ya, hehe. 

Waduh, nggak kerasa kok udah banyak ya ternyata tulisan saya ini. Intro dan basa-basinya kepanjangan sih, ahaha. Yah harap maklum ya guys, karena saya langsung menulis apa aja yang ada di pikiran saya. Awalnya saya mau kasih judul postingan ini "Menjelajahi Keindahan Lombok Tengah", tapi berhubung isinya cuma desa Sade, jadi ganti judul deh, ahaha.


Sebenarnya, waktu itu saya masih ingin untuk eksplor lebih dalam lagi. Saya juga ingin masuk ke dalam rumah-rumah mereka, melihat interiornya, juga berinteraksi dengan warga sekitar. Tapi waktu yang kami miliki sangat terbatas, karena masih ada beberapa tujuan lain yang harus kami kunjungi. InsyaAllah kapan-kapan saya ingin main ke sana lagi.

Baiklah, untuk tujuan selanjutnya akan saya tulis di edisi mendatang ya. See you! ;) 
                
   

You Might Also Like

2 comments

  1. Desa Sade emang mengagumkan mbak dengan terus menjaga tradisi di tengah kemajuan zaman..
    Saya dulu juga pernah berkunjung sewaktu main ke Lombok...

    Salam ngeblog dari menggapaiangkasa.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap betul sekali, terkadang masih ada beberapa wilayah yg masih konsisten menjaga tradisinya meskipun zaman semakin maju. thanks sudah mampir :)

      Delete