Tanda itu Perlahan Nampak

By 10:24:00


"Assalamu'alaikum, mbak ada kontak yang bisa dihubungi"
"Oh iya mbak ada, ini mbak 0856xxxxxxxx"
"Terima kasih mbak"

Kutipan pesan di facebook tersebut sedikit membuatku mengernyitkan dahi. Bagaimana tidak, aku tak tahu siapa dia. A stranger, yang belum lama kukenal meminta nomor HP ku. Tapi dalam hati berkata, "Berikan saja kontakmu, sepertinya dia baik. Lagipula dia seorang perempuan," Tanpa sedikitpun rasa curiga, akhirnya kuberi dia kontakku.
Selang satu hari setelah kuberikan kontakku berupa nomor HP ke dia, akhirnya ada nomor asing yang mengirimkan pesan WhatsApp kepadaku,

-Saturday, 26th of July 2014-

"Assalamu'alaikum mbak, ini saya S***** yang tadi di fb"

Kubaca pesannya, ternyata itu dari dia yang kemarin meminta kontakku di fb. Karena saat itu aku sedang sibuk berada di luar rumah, pesannya sengaja tidak langsung kubalas.

-Beberapa jam kemudian-

"Mbak?"

Rupanya dia sudah menunggu responku. Then I considered to say "Hi" to her.   

"Wa'alaikumsalam, oh iya mbak maaf baru bales. Saya tadi lagi repot,"
"Iya mbak gpp. Mungkin mbak bertanya-tanya kenapa saya menghubungi mbak Sherly,"
"Hehe, iya mbak saya bingung. Kenapa ya mbak?"
"Maaf sekali sebelumnya mbak karena ini mungkin menyangkut masalah pribadi mbak. Mbak menjalin hubungan dengan mr.XXXXX? Mungkin mbak bingung lagi kenapa saya tanya seperti ini. Tenang saja, ini hanya jadi bahan pertimbangan buat saya saja."

Tanda emotikon senyum mengakhiri pertanyaannya.
Terkejut. Tertegun. Terdiam. Berpikir.
Astaghfirullah, siapa ini? Siapa dia kok bisa-bisanya dia bertanya tentang masalah pribadiku? Hati ini menebak-nebak, "Mungkin ini saudaranya mr.XXXXX, atau temannya. Karena tiba-tiba dia bertanya kepadaku tentang mr.XXXXX"

Dengan spontan dan jujur akupun menjawab,

"Oh ndak mbak S*****, saya dan dia hanya rekan kerja, selebihnya tidak ada apa-apa"
"Masak orangnya ndak deketin? Beberapa bulan yang lalu sempat bilang ke saya kalau tertarik dengan mbak,"
"Ndak mbak, ndak ada hubungan apa-apa hanya sebatas rekan kerja. Sikap mr.XXXXX ke saya juga biasa saja, seperti anggota tim yang lain"

Sebisa mungkin aku membantahnya, aku tidak mengenal dia. Tapi bagaimana bisa dia tahu kehidupan pribadiku? 
"Kalau boleh tahu mbak S***** siapanya mr.XXXXX ya? Kok bisa tau saya,"
"Saya tau dari mr.XXXX tapi itu juga bulan Januari kemarin,"
"Oh, saudaranya ya?"
"Bukan mbak, saya dulu adek kelasnya mr.XXXXX mbak. Dulu kenal waktu di organisasi. Mbak, maaf ya saya jadi ngganggu mbak"
"Gpp mbak, saya cuma masih bingung aja kenapa mbak bisa tanya gitu ke saya. Hehe, penasaran"
"Dia ndak tau kan kalau saya menghubungi mbak?"
"Ndak mbak, saya ndak bilang kok. Ada apa mbak? Cerita ke saya"
"Jadi sebenarnya 5 tahun yang lalu kami memang pernah dekat mbak, tapi hanya sekitar 3 bulan. Setelah itu kami hanya berteman. Dia cerita kalau tertarik dengan mbak, begitu. aduh, sekali lagi saya minta maaf mbak,"
"Oh iya, ndak apa-apa mbak,"


   

You Might Also Like

0 comments